Hoax Abadi Sepanjang Jaman

Beberapa waktu terakhir (baca beberapa tahun ke belakang), banyak diantara kita yang mungkin disibukkan dengan keberadaan hoax atau berita bohong. Saya pribadi berkali-kali terkena getah dari kabar berita ini, yakni sebagai orang yang mempercayai berita bohong tersebut. Hiks… kasihan banget ya gua.

Berapa lama hoax bertahan?
Fenomena hoax sendiri sebenarnya bukan barang baru. Setidaknya hoax sudah ada berabad-abad lamanya. Hoax tentang kehidupan sosial buat saya tidak begitu menarik, karena kebanyakan dalam seumuran jagung sudah hoax tersebut telah terklarifikasi kebenarannya. Atau mungkin kita sudah tidak memusingkan keberadannya lagi.

Satu hoax yang menarik untuk saya bagi di artikel ini adalah hoax yang berkaitan dengan kesehatan. Saya yakin kita sering mendengar ada “obat” dengan multi khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Fenomena klaim seperti ini sangat banyak sekali, dan mungkin telah muncul berabad-abad.

Tidak percaya? Coba teman-teman sekalian buka berbagai buku cerita seperti “Mushashi”, “Totto Chan”, atau mungkin menengok kembali film seperti “jewel in the palace”. Di buku “Totto Chan” misalnya (sejauh yang saya ingat), ada cerita di mana Totto Chan tertarik untuk membeli satu “butir obat” (cmiiw) pada saat dirinya berangkat sekolah. Kata penjual obat, obat ini dapat menyembuhkan berbagai penyakit dari seseorang. Latar belakang cerita Totto Chan sendiri mungkin sudah berumur lebih dari 50 tahun dari masa sekarang.

Efek Hoax?
Hoax obat seperti ini seringkali memberikan efek buruk pada berbagai hal, di antaranya memburuknya kesehatan orang yang menkonsumsi dan pada kasus yang buruk ancaman punahnya suatu spesies di muka bumi. Orang-orang yang sakit sudah selayaknya mendapatkan pengobatan yang sesuai. Sebagai contoh gigi berlubang gigi kalau tidak ditambal bisa menyebabkan lubang semakin menganga lebar. Orang yang terkena hoax: makanlah permen ini, maka gigimu akan segera sembuh. Waduh… kasihan sekali yak. (tenang, contoh kasusnya dibuat hiperbola :D)

Hoax yang mengancam punahnya satu spesies diantaranya manfaat kesehatan (berlebihan) bagi orang yang mengkonsumsi sirip hiu, dan juga orang yang mengkonsumsi cula badak. Coba kita fikirkan, apa kita tidak kasihan dengan spesies-spesies itu.

Apa motif mereka?
Motif orang yang mengkonsumsi sebenarnya sederhana, yakni: pengen sembuh secara instan. Acapkali mereka sudah melalui proses treatment baik terapi atau konsumsi obat yang tak kunjung usai (baca membuahkan hasil signifikan), dan mencari solusi lain diluar solusi yang benar.

Sedangkan motif penyebar hoax (baca penjual) biasanya masalah ekonomi, pengen mendapatkan keuntungan dari situasinya. Menurut saya ada dua kelompok penyebar hoax ini yakni pembuat yang mengetahui kalau berita yang disebarkan belum melalui kajian dan proses eksperimen. Kelompok lain yakni penjual, yang “percaya begitu saja” dengan informasi dari pembuat hoax.

Pernah terkena hoax abadi ini?
Pernah dong. Tapi cm sebatas pengkonsumsi saja. Mungkin hoax memang diciptakan bagi kita untuk belajar bahwa dalam kehidupan yang kita jalani tidak semua yang kita dengar adalah benar.

Mungkin sampai saat ini masih menikmati sebagai “korban” hoax bahwa air kelapa bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kl saya lihat listnya banyak banget bro, sis. mulai dari diabetes, asam urat, ginjal, kolesterol, macem-macem lah.

Tapi saat ini masih dong menikmati hoax. Lha klpun tidak hoax juga nikmat dan alami. 😀 di sini air kelapa 1 liter harganya 1.5 GBP bro. sekitar 30an ribu lah. kalau dibandingkan cocacola lebih murah coca-cola. tapi karena kangen kan, jadi deh beli. hehehe

Siapa yang biasa terkena hoax ini?
Menurut saya orang-orang yang sakit dalam kondisi kritis rentan terkena hoax ini. Keluarga kami juga pernah mengalami hal yang sama. Saat itu kami sekeluarga berusaha mencarikan obat untuk bapak (eyang kami) tercinta. Menurut informasi, umbi teratai bisa menyembuhkan penyakitlah, atau bahan tertentu bisa menyembuhkannya lah, dan berbagai alternatif lain.

Alhamdulillah bagi keluarga kami pengomatan medis masih tetap dijalani, sehingga efek hoax buruk penundaan penanganan medis tidak begitu terasa.

Di kondisi itu kami juga berkonsultasi kepada mubaligh di desa kami. Kakak menanyakan boleh tidak meminta obat buat kesembuhan bapak, dan dijawab oleh mubaligh ini dengan kata: Mas, saat ini saya tidak punya obatnya, tapi sebenarnya obatanya ada mas, yakni air yang berada di dalam batu.

Kembalilah kakak saya ke rumah dan menceritakan jawaban dari mubaligh tersebut. Baru beberapa tahun setelahnya saya memahami maknanya: obatnya ada hanya saja beliau tidak memilikinya. Adapun air yang berada di dalam batu bermakna bahwa kalaupun obat itu ada, bisajadi kita tidak mengetahuinya. Kombinasi kalimat tersebut juga berarti jangan pernah patah asa karena Allah menyiapkan obat untuk segala penyakit.

Bagaimana kita bisa tau hoax atau bukan?
Hoax ini sebenarnya simple untuk dideteksi: overclaim. sudah itu saja, tidak ada yang lain.

Semoga bermanfaat

Agung Toto Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *