HighLowWin Sebuah Cerita Perjalanan Studi di University of Aberdeen

Tanggal 31 Oktober mungkin banyak diketahui sebagai perayaan Halloween. Tidak semua belahan bumi memang, tapi mungkin sudah banyak yang mengetahui kalau istilah ini akan identik dengan sesuatu yang “seram-seram”. Yah karena memang di-event ini orang-orang merayakannya dengan memakai berbagai kostum seperti setan pencabut nyawa, nenek sihir dan sebagainya. Labu yang icon dari Halloween juga dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat “seram”.

Bagi kami teman-teman persatuan pelajar Indonesia (PPI) yang sedang menjalani amanah di Aberdeen, perayaan tadi malam mungkin hanya berarti hiburan semata. Karena bagi kami masih ada yang lebih seram daripada kostum-kostum tersebut. Bagi kami, keberlangsungan dan keberhasilan study sudah menjadi hal yang utama. Maka dari itu, tugas-tugas selama akan terasa lebih seram dari pada sekedar riasan makeup menjelang malam di tanggal 31 Oktober. Bukan Halloween yang menantang bagi kami, melainkan HighLowWin.

Apa sih maksudnya HighLowWin
Selama masa study, sudah sering kami mengalami masa-masa tegang (high, bisa juga dalam passion tinggi) dan tenang (low, bisa juga dalam motivasi rendah) yang kami nikmati dengan suka cita (win). Bagi teman-teman master di sini saya melihat perjuangan mereka dalam menyelesaikan study sangat berat. Kuliah dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa ibu, tugas yang harus diberikan dalam masa singkat, jumlah referensi yang mereka harus baca dan fahami, semua itu membuat HighLowWin sangat berasa.

Bagi saya pribadi yang menjalani studi pada jenjang doktoral, masa-masa HighLowWin terjadi berkali-kali selama fase perkuliahan. Oh iya, sebelumnya saya jelaskan dahulu kalau saya memiliki 3 (tiga) orang supervisor yang sangat mumpuni di bidang mereka. Ibarat dunia persilatan, kalau nama mereka disebut di jagad keilmuan mereka, sudah pasti orang-orang akan nggeh akan kesaktian (baca karya) mereka.

Berbeda dengan teman-teman master, selama studi saya tidak diberikan tugas oleh supervisor (spv) seperti layakny tugas kuliah di jenjang S1. Di awal perkuliahan, saya disodori: ini google schoolar, kamu bisa mencari paper apapun yang kamu mau, dengan akses yang dilanggan kampus kamu bisa mendownload paper-paper tersebut, kamu juga bisa menelusuri paper mana yang mereka sitasi, atau yang mensitasi pekerjaan mereka. Di awal saya juga diberikan ini contoh kode sumber orang, yuk kita sepakati pertemuan mingguan, sehingga kita bisa tau apa yang bisa kamu lakukan dengan itu.

Sekilas statementnya sederhana yang bisa berarti high dalam menjaga mood study saya. Tapi beuh… setelah dijalani satu minggu, saya serahkan progres selama satu minggu, komentar pembimbing: Kamu membuat apa? Langsung deh mood, turun (low). Mungkin kalau diutarakan dengan bahasa lain: Sana belajar lagi. dan ini berlangsung lebih dari beberapa minggu. Titik Win pertama bagi saya adalah manakala ada tenggat satu konferensi ternama di tahun 2016 : Recommender Systems 2016 dimana mereka membuka program Doctoral Consortium. Supervisor serta merta ngomong: km bisa ga buat tulisan untuk di submit ke sana? Sudah deh saat itu karena masih single saya kebut tuh, datang sampai malam, termasuk hari sabtu dan minggu ke office untuk ngedraft paper (maklum, tenggatny senin). Spv juga ternyata standby dengan gawainya di rumah, jika sewaktu-waktu saya mengirimkan email pertanyaan. Benar, hari seninnya spv ngelihat semua hasil saya, dan moment low datang kembali. Kata beliau: Sini, duduk di sampingku. Hari itu, beliau kuliti tuh semua kata per kata yang aku taroh di draft paper. Beberapa pertanyaan seperti: Apa maksudnya kata ini? Kamu tau ga bedanya kata ini dengan ini (contoh weather-whether, than-then, event-even)? Bueh… dalam hati mampus aku… Selama 2 jam lebih saya berada di samping beliau, dan merasa kan nyali yang ciut gt. Tapi Alhamdulillah beliau mau membantu, beliau ubah semua susunan katanya dari yang tadinya kalimat berpola SPO menjadi kalimat majemuk bertingkat yang memiliki keindahan tata bahasa tingkat tinggi. Beruntung bagi kami tenggat diundur satu minggu, yang artinya saya bisa menambah data, dan mengubah analisa. Di akhir, kami kirimkan, dengan tak lupa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada spv. Selang 2 minggu dari perpanjangan waktu, muncul pengumuman. Alhamdulillah, paper diterima. Itulah pertama kali masa win bagi saya. Betapa tidak, terbang ke Boston untuk menangkap Tauros di MIT sebagai penambah koleksi pokemon merupakan kenangan yang mungkin belum tentu hadir beberapa kali.

HighLowWin Kedua?

Selang pengumuman dan pelaksanaan Doctoral Corsortiumnya boleh dibilang cukup lama, selama itu saya merasa dalam puncak gairah mengingat 4 bulan pertama saya sudah memiliki hasil, meskipun cupu banget sih kl dipikir-pikir hasilnya. Spv jg ngomong kl hasil ini, secupu apapun, nantinya bisa jadi 1 chapter di buku km. Nah semakin semangat kan. Aku cb kembangin lagi tuh, ke kiri ga berhasil, ke kanan gagal, ke depan  dan kebelakang mentog. duh. mulai deh ngerasa kok aku bego banget ya? jadi nanti kira-kira apa yg akan aku jawab ke teman-teman kalau ada yg nanya tentang topik risetku? (buat kalian, usahakan jangan tanya hal ini ya ke teman-teman yg sedang study S3, kalau terpaksa banget boleh dah, tapi dipikir ulang ya). Saat itu saya merasa feeling lost, I know nothing. Not a single piece of work. Namun Spv rupanya faham dengan kondisiku. Aku diingatkan dengan proses evaluasi tahun pertama.

Di bulan ke 9, saya mencoba membuat draft tulisan, dan mengirimkannya ke spv. kami pelajari dengan seksama laporan (yang merupakan proposal riset sampai akhir studi), kami perbaiki bersama, daaan.. lagi-lagi Spv memberi menaikkan motivasi saya. Kata beliau: sudah, kamu kan punya publikasi tuh, kemungkinan besar aman lah di tahun pertama ini. Karena menurut pengalaman mereka, sangat jarang mahasiswa tahun pertama yang membuat publikasi (meskipun cupu).

Akhirnya saya kirimkan, dan saya ambil break u menjemput keluarga di Indonesia. Sekembalinya di Aberdeen, saya diberikan jadwal 1st year assesment, dan… Tara….. Major Revision. yang berarti saya harus memperbaiki semua proposal riset saya. Bener-bener fase low dalam kehidupan PhD saya. Masa-masa yang seharusnya indah dengan kehadiran keluarga di Aberdeen, saya habiskan emosi kok aku ga bisa ngerjain ini ya? Dua bulan saya habiskan hanya untuk memperbaiki proposal riset. Benar-benar masa low yang sedalam-dalamnya. Saya tidak tau harus menulis apa, saya tidak tau akan melakukan eksperimen apa. Di bulan awal Desember 2016 Spv berkomunikasi dengan assesor saya, dan akhirnya terdapat titik terang bagian mana yang harus saya perbaiki. Berbekal dari sana, saya kirimkan kembali proposal, dan mereka menerima revisi saya dengan sedikit catatan. Alhamdilillah, satu fase Win yang lain.

Ada HighLowWin lagi?
Ada dong. Setelah fase sebelumnya, saya mulai berfikir, memang studi ini bagaikan perjalanan panjang yang terkadang kita harus berhenti, merenung, termenung, melamun, mengelantur, dan sebagainya. Saya pribadi ada banyak HighLowWin lain tapi ada baiknya saya keep saja coz tulisannya bakal kepanjangan. Bosen nanti.

Apa yang dilakuin saat HighLowWin?
Kalau saat High, biasanya aku akan semangat tuh ngerjain apapun yang menjadi tugas saat itu. Mau programming, mau nulis, mau nganalisa hasil, mau baca literatur, sepertinya pas High enak semua u dilakuin.

Mungkin yang paling sulit adalah saat Low. Untuk yang satu ini di antara mahasiswa PhD Indonesia di University of Aberdeen ada terminologi: PhD adalah bagaimana cara kita untuk memanage tingkat kewarasan (Zeni). Nah untuk itu, banyak yang bisa dilakukan, mulai dari shalat, doa, ngobrol dengan teman, potluck (ngariung), ngopi bareng, jalan2, masak. eh labu yang jadi lentera Halloween bisa jadi kolak lho.. Enak kayakny. Kayaknya sejak di sini mulai bertambah deh keahlian menggunakan pisau :D. ngiris bawang putih, nyincang daging, buat baso, buat rendang, buat brownies, martabak asin ala-ala, bebek bakar, kue sarang semut, termasuk ngebuat bolen Bandung ala-ala gitu. enak rasanya kalau memasak. Bisa nyoba resep baru, kalau gagal, dicek kenapa gagalnya, misal terlalu gosong nih, jadi harus di gedein atau dikecilin pas ngoven masakan. Wah maknyus deh. Apalagi kl yang dimasakin pada seneng dengan hasil ala-alanya. beuh… 

Saat Win yang perlu dilakukan yakni bersyukur, berdoa semoga dipersering fase winnya, berterima kasih kepada fihak-fihak yan gmembantu, berbagi kebahagiaan dengan istri dan keluarga, berbagi kebahagiaan dengan kawan, apapun lah, yang mengungkapkan rasa syukur kita akan fase ini.

Jadi Kapan Win yang Terakhir, Benar-benar Akhir?
Tega ya nanyain pertanyaan ini. Di antara hubungan mahasiswa doktoral, ada beberapa level pertanyaan yang bisa mengarah kepada tabu untuk ditanyakan.

Level “green”: Bagaimana kabarmu? Hari ini masak apa? Atau ngopi yuk, aku traktir. nah itu pertanyaan yang boleh untuk di tanyakan.

Level “yellow”: Bagaimana pekerjaannya/risetnya? Bagaimana hasil eksperimennya? dan yang lainnya kalau bisa di hindari deh. Boleh ditanya, tapi ada baiknya tidak.

Level yang paling tabu “red”: Kapan lulus? Kapan submit thesis (baca disertasi)? nah level ini meskipun banyak yang tidak tau kalau tabu u ditanyakan, nih aku kasih tau ya, jangan tanya. Akan lebih baik nih.. doakan saja semoga lancar proses studinya, barakah ilmu yang diraih, atau tanya seperti ada yang bisa aku bantu tidak mas? barangkali butuh responden atau apa gt mas? nanti kontak ya mas, jangan sungkan2. Pertanyaan itu yang paling joss. paling ngademin, lebih-lebih doa dikombinasikan dengan pertanyaan tadi. bueh… anclcess nang ati.

* Maaf, kali ini edisi curhat

Agung Toto Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *