Rawarontek – Ep01: Mantra Pembangkit Sukma

Desclaimer:
1. Artikel ini adalah cerita rekaan belaka, segala kejadian dikarenakan membaca artikel ini diluar tanggung jawab penulis.
2. Artikel ini mengandung cerita kekerasan, untuk itu jangan ditiru.
3. Artikel ini mengandung cerita mistis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
4. Artikel ini tidak terkait dengan sejarah manapun, untuk itu jangan dijadikan acuan apapun.

Wiwitan
Lejar, sudah berkali-kali aku ceritakan kepadamu bahwa diriku adalah seorang rawarontek. Orang jelata tentu tidak akan begitu saja percaya dengan kesaktian yang aku miliki. Ajian yang mampu menumbuhkan semua bagian tubuh yang terlepas dari tubuh utama takkan mudah dinalar manusia. Ajian ini tidak hanya bagaikan cicak menumbuhkan ekor, namun mampu membangkitkan sukma. Kepala terpisah dari badan bukan pengalaman yang jarang bagi rawarontek. Hidup bertahun-tahun bahkan berabad-abad lamanya adalah idaman bagi manusia. Aku sendiri sudah merasakan tiga ratus empat belas tahun silih berganti. Banyak purnama telah aku saksikan, tapi hidupku sendiri tak pernah purna.

Mungkin engkau akan menganggap kesaktianku sangat berguna, tapi ketahuilah Lejar, ajian ini tidaklah istimewa. Sebelum aku turunkan ilmu ini kepadamu, akan aku ceritakan bahwa menjadi rawarontek tidaklah menyenangkan. Lejar, engkau tiada tau berapa kali diriku merasa bosan, menunggu kematian yang tak kunjung datang. Setiap kali sukmaku sirna, dia kembali ke raga. Telah aku ceritakan berkali-kali dalam beberapa pertempuran tangan atau jariku terpisah, dan akan selalu tumbuh seperti sedia kala.

Lejar, bosan hanya satu dari sekian hal yang tidak aku sukai di dunia ini. Manakala telah aku berikan semua kesaktianku padamu, aku akan purna. Sukmaku akan terpisah dengan raga dalam empat purnama. Selama itu akan aku ajarkan kepadamu bagaimana memindahkan ajian ini kepada orang yang engkau suka.

Lejar, taukan engkau, setiap kali goresan golok atau kampak mengenai tubuhku, ragaku merasa sakit. Seringkali rasa sakit yang tiada tara. Engkau takkan pernah tau betapa ngilunya kuku terlepas dari tempatnya, atau telinga terbelah menjadi dua. Meski semua akan kembali seperti sediakala, tapi aku katakan kepadamu itu bukanlah pengalaman yang indah untuk engkau lalui.

Lejar, telah aku ceritakan kepadamu bahwa rawarontek hanya bisa dibinasakan dengan pedang, yang dilanjutkan dengan arang. Pedang harus jelas memisahkan sukma dengan raga, dan semuanya harus terjadi di udara. Tidak banyak orang di dunia ini yang pernah memisahkan sukmaku, dan bukan berarti pula aku tidak pernah mencoba hal itu. Pernah suatu ketika aku ikatkan pedang melintang di udara, yang di bawahnya sudah aku siapkan kayu dengan kobaran menyala. Kobaran yang sangat besar, hingga ujungnya dapat dilihat dari jarak ribuan hasta. Kala itu, aku lompatkan diriku mengenai pedang tanpa sarung, aku pastikan tubuhku terbagi dua, dan sesudahnya kobaran api telah menunggu. Meraung-raung sukmaku ingin berpisah. Pikirku merasa aku akan purna, tapi kau tau Lejar, satu ruas jari kaki tidak terbakar dengan sempurna. Dia jatuh menggapai tanah, dan sukmaku terbangkitkan kembali.

Lejar, hidup lama bukan berarti kesenangan yang abadi. Banyak kenangan yang aku ingat dalam tiga ratus empat belas tahun ini. Aku akan ceritakan semuanya sebelum ajian ini menjadi milikmu sepenuhnya.

Rawarontek, meski banyak manusia yang menginginkannya, tapi bukan sengaja aku memilikinya. Kepadamu aku ceritakan dahulu bagaimana ajian ini bisa bersamaku.

Pertempuran Hidup dan Mati
Malam itu, diriku, Caweni, sedang bertengkar sehebat-hebatnya dengan kakakku sendiri, Kumbayana. Kami sama-sama menyukai seorang gadis bernama Nadindra. Sehari sebelumnya, aku katakan kepada Kumbayana bahwa aku akan menjadikannya sebagai pendampingku. Aku tidak tau kalau Kumbayana juga mencintainya.

Lejar, tiga abad lalu, tidak banyak manusia seperti saat ini. Bertemu gadis pujaan adalah hal yang sangat jarang. Bisa kau bayangkan Lejar jarak satu desa ke desa lain membutuhkan waktu satu atau dua hari perjalanan. Nadindra adalah gadis desa sebrang. Sudah barang tentu banyak yang memuja Nadindra. Kamu tau Lejar, bodohnya Caweni dalam hal ini adalah tidak mengetahui kalau Kumbayana juga mencintainya.

Pertengkaran terjadi tanpa perhitungan. Malam itu, saat aku selesai membelah kayu dengan golokku, dengan teriakan lantang, Kumbayana langsung menyerangku. Awalnya hanya pukulan yang dia hujamkan. Kami saling berbalas tendangan, hantaman, pukulan dan cacian. Aku sempat menanyakan kenapa Kumbayana menghantamku, dan diapun berterus terang kalau Nadidra-lah penyebabnya. Dia juga menginginkannya. Entah iblis mana yang sudah merasuki kami, tapi aku, si Caweni dan kakakku Kumbayana sama-sama tidak ada yang mengalah. Suatu ketika aku dorong dirinya dengan tendangan sekuat tenaga, dan dia terjungkal ke arah tumpukan kayu.

Tidak jauh dari situ golok lain yang sudah selesai aku asah terlihat olehnya. Dipungutnya golok itu, dan kamipun beradu. Lesitan golok di udara, dan dentingan golok yang beradu terjadi berulang-ulang. Tak ada orang yang bisa memisahkan, dan memang karenanya tidak akan ada orang yang berani memisahkan atau nyawa mereka sendiri yang akan hilang.

Di akhir pertempuran Lejar, aku ingat diriku menangkis golok Kumbayana, dan sekonyong-koyong aku balas dengan serangan secepat-cepatnya. Hebatnya Kumbayana, dirinya bisa menghindari seranganku, dan membalikkan tubuhnya, menempatkan badannya dibalik punggungku. Saat itu, kami saling memunggungi diri. Baik Caweni maupun Kumbayana tau serangan berikutnya adalah penentu. Nafas kami terengal-engal, bagaikan lari ribuan hasta dengan secepat-cepatnya. Otak kami berfikir bagaimana harus mengakhiri. Entah kenapa Lejar, pada tarikan nafas terakhir, kami sama-sama menarik udara sepanjang-panjangnya, bagaikan tau itu adalah terakhir kalinya.

Lejar, diriku Caweni dan Kumbayana berbalik menghujamkan golok sekencang-kencangnya. Aku Caweni tak tau mana yang dia sasar, dan Kumbayana juga aku yakini tidak tau bagian mana yang aku sasar. Yang kami tau hanyalah tebasan harus kami lakukan sekuat tenaga dan secepat-cepatnya. Aku ingat hari itu, terakhir aku sangat yakin bahwa diriku akan menang. Aku Caweni, mengarahkan golokku kelehernya, namun dirinya si Kumbayana-pun mengincar bagian yang sama. Ujung golokku menghujam lehernya, dan matakupun gelap gulita. Malam itu, dua kepala telah terpisah dengan badannya.

Kakek Janitra sang Pertapa
Lejar, tak ada yang bisa aku ingat setelah mataku menjadi gelap. Yang aku tau meskipun sukma telah terpisah dengan raga, tapi semua anggota raga tetap meronta. Rasa sakit yang sangat sakit. Aku tak bisa menggambarkannya dengan kata ataupun aksara, tapi percayalah tidak ada yang melebihi sakitnya sukma yang berpisah dengan raga.

Angin bertiup menembus gua, yang disana terdapat dipan bambu tempatku berada. Rasa sakit itu bangkit. Sakit, teramat sakit. Indraku mulai berfungsi, meski masih belum sempurna. Sayup-sayup diriku, Caweni, mendengar seseorang bertutur kata. Wahai pemuda, jangan gerakkan badanmu. Tak banyak kata yang bisa aku dengar karena memang diriku baru bangkit dari kematian yang menyiksa.

Dibilik bambu, kedua kakiku terikat dengan erat, kedua tanganku dibebat tanpa ada yang terlewat. Mataku tertutup dengan entah apa, hanya leher dan mulutku yang dibiarkan begitu saja. Mungkin memang ada gunanya bahwa aku masih butuh minum. Ya Lejar, meski hanya setetes dalam satu kali bara membakar dupa lamanya, tapi aku membutuhkannya. Berkali-kali aku merasakan sengatan, patokan dan gigitan entah dari hewan apa saja, tapi rupanya hewan-hewan itu mengirimkan makanannya kepadaku. Tak jarang bukan makanan biasa, tapi racun yang maha berbisa kadarnya.

Berhari-hari Lejar, aku rasakan sakit itu, yang kelak aku ketahui membutuhkan waktu dua purmana. Selama itu, sayup-sayup aku dengarkan mantra-mantra yang diulang-ulang. Mantra itu diikuti dengan ajian yang kini engkau ketahui sebagai ajian rawarontek. Rupanya kakek yang sayup-sayup berbicara kepadaku menyalurkan ajiannya ketubuhku.

Di purnama ketiga, rasa sakitku sudah sirna. Aku bisa melihat kembali, dan mulai bercakap lagi. Kakek yang membisikiku memperhatikanku, dan dia berkata, sudah saatnya kamu tau bahwa sukmamu telah bangkit kembali. Lejar, kepada diriku Caweni, memperkenalkan dirinya sebagai Janitra. Dirinya menundukkan wajah, lebih tepatnya menyembah diriku dan berkata: anak muda, terima kasih dari hamba karena engkau telah membantu Janitra menemukan apa yang ia cari. Dia katakan sudah tujuh ratus tahun lebih dia menginginkan purna tapi tiada bisa ia temui.

Aku Caweni, menjadi bingung tiada tara karena tau bahwa kakek Janitra telah menyelamatkan ragaku. Dialah yang telah membangkitkan sukmaku dengan mantra-mantranya. Sudah seharusnya diriku yang berterima kasih kepadanya, tapi kenyataan malah berkata sebaliknya. Lejar baru kini aku ketahui bahwa keabadian bagi manusia belum tentu berarti kesenangan. Apalagi keabadian itu ada tanpa tujuan.

Lejar, dua purnama kami bertutur sapa, dan dari dirinya banyak terucap alasan kenapa dia memberikan rawa rontek ini kepadaku. Dia juga berkata alasannya memilihku daripada kakakku Kumbayana adalah karena cerita orang-orang desa. Kepadanya orang-orang desa itu bercerita bahwa perkelahian berawal dari teriakan Kumbayana. Dari situlah dia memilihku Lejar, Caweni yang kini ada dihadapanmu.

Lejar, kepadaku Caweni, kakek Janitra juga berkata: aku telah mempersiapkan semuanya, mencatat semuanya, hingga engkau kelak akan sanggup mengirimkan rawarontek kepada orang yang engkau suka.

Lejar, apakah engkau masih menginginkan hidup abadi? Aku akan bercerita banyak kepadamu tentang pengalaman-pengalamanku, tentang rasa sakit yang sering aku alami, sehingga mungkin engkau akan mengubah keputusanmu.

Agung Toto Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *