Ngintip Nanyang Technological University

Alhamdulillah tanggal 8-11 Juli 2018 kemarin berkesempatan untuk menengok negri singa putih. Itupun bukan karena ingin plesir, tapi lebih pada tugas publikasi yang mendamparkan diri beberapa hari di Singapura. Kalau teman-teman yang lain sering menceritakan bagaimana pengalaman mereka di Singapura seperti merlion, universal studio dan lainnya, kali ini saya akan berbagi cerita tentang Nanyang Technological University (NTU). Sebenernya saya sudah gatel untuk nulis pengalaman yang satu ini namun satu dan lain hal baru sekarang kesampaian. Maklum sok sibuk (facebookan :D)

Untuk mencapai NTU boleh dikatakan mudah, kala itu saya menaiki MRT di green line yang menuju ke Tuas, dan berhenti di stasiun Pioneer. Dari Pioneer saya melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus 179.

Kesan Pertama? 
Meskipun sama-sama di dekat katulistiwa, saya merasakan atmosfir yang berbeda. Udara di Singapore lebih lembab, mirip dengan green house dengan ukuran sangat besar. Bersyukur terbantu dengan adanya pepohonan besar yang menjulang di kiri maupun kanan jalan.

Saat masuk ke kawasan NTU pun saya rasakan bahwa kampus ini cukup luas. Mungkin sekitar ukuran Universitas Indonesia (UI) kali ya. terdapat jalan-jalan besar yang membelah kampus. Saya sendiri sempat tersesat dan harus bertanya kepada mahasiswa NTU yang sedang olah raga santai. Dengan wilayah yan gluas itu, NTU menyediakan layanan bus gratis yang dapat dipergunakan oleh siapapun untuk berkeliling di dalam kampus.

Saya sendiri mengingat terbiasa berjalan kaki di Aberdeen memilih tidak menggunakan fasilitas ini. Pemilihan berjalan kaki juga didasari pada terdapatnya lajur pedestarian yang nyaman bagi pejalan kaki, terpisah dari laju kendaraan di jalan utama. Di samping kebiasaan dan keinginan pribadi untuk berkeliling melihat-lihat suasana kampus lebih dekat.

Menurut saya orang-orang yang berada di NTU sangat ramah. Saya beberapa kali bertanya secara acak keorang-orang yang ada di sana menyenai lokasi suatu tempat, dan selalu dibalas dengan jawaban yang memuaskan. Sebagai contoh saya bertanya di mana letak kantor pos, mushalla, dan area menarik lainnya.

Nginap di NTU?
Ya, dalam kesempatan publikasi di konferensi User Modelling, Adaptation and Personalization (UMAP) 2018, saya selaku peserta menginap di student dormitory. Budget terbatas menjadi alasan saya untuk menginap di asrama kampus. Meskipun demikian saya merasa tidak menyesal mengingat fasilitas yang diberikan saya rasakan cukup layak. Mendekati bagus malah kalau dinyatakan sebagai akomodasi mahasiswa.

Saya menginap di Hall 10, lantai 4. kalau tidak salah di kamar 4110. Untuk mencapai ke kamar tidur saya harus menaiki tangga manual, dan mengingat tinggi dari gedung yang ada, saya siasati dengan membagi tangga. Maksudnya begini, jadi saya gunakan tangga untuk naik dua lantai, dan berjalan horisontal ke tangga lain, baru melanjutkan ke tangga menuju lantai yang saya tuju.

Suasana Hall mirip dengan villa yang tertata rapi, dengan ruang terbuka hijau dipenuhi dengan rerumputan dan pagar hidup yang dirawat dengan baik. Kamar terpisah dengan kamar mandi. Meskipun jaraknya hanya beberapa meter saja.

Keren ga Bangunannya?
Untuk pertanyaan ini saya jawab keren, sangat keren. Saya utarakan kekurangannya terlebih dahulu dari bangunan-bangunan yang di miliki NTU: biasa (tidak wah).

Ada beberapa alasan yang membuat saya menyatakan bangunannya keren. Alasan pertama adalah penataan gedung dan ruang yang memperhatikan kontur tanah. Jadi di NTU sepertinya berdiri di area perbukitan. Kondisi ini dimanfaat kan dengan baik oleh bangunan-bangunan du sana, sehingga masing-masing gedung bisa jadi memiliki beberapa lantai yang menjadi “ground floor”. Baik basement, upper ground, ataupun grounf floor sendiri bisa menjadi lantai yang memiliki gerbang rata dengan tanah.

Pembangunan gedung juga dibuat memperhatikan sirkulasi udara, dan juga memperhatikan jumlah cahaya yang diharapkan dapat masuk ke ruangan-ruangan. Hal ini menjadikan gedung-gedung di NTU cukup sehat dengan sirkulasi udara yang enak untuk dihirup. Mereka juga memperhatikan adanya tumbuhan hidup di sekitar gedung. Sebagai contoh pada gambar di atas, bunga Bougenville ditanam pada pot besar pada sisi luar gedung. Penanaman ini memiliki beberapa fungsi seperti sebagai pagar, dan menmerikan sirkulasi oksigen yang cukup bagi orang-oarng di sekitarnya. Setidaknya kalaupun tidak cukup akan memberikan nuansa segar dan tidak terlalu panas.


Pada Kiri dan kanan ruangan juga diberikan meja-meja yang bisa dimanfaatkan untuk diskusi atau mengobrol santai. Keberadaan meja-meja ini mungkin sangat terasa bagi mahasiswa untuk bercengkrama atau berdiskusi dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan.

Saya sendiri memanfaatkan fasilitas ini untuk bermain kartu dengan teman-teman disela-sela konferensi. 😀

Fasilitas Lain?
Sebenarnya banyak fasilitas yang belum saya kunjungi di NTU. Namun beberapa fasilitas yang membuat saya tercengang adalah keberadaan cafetaria yang besar, terkesan seperti cafetaria di tengah-tengah mall. Cafetaria ini tentunya menjanjikan makanan yang terjamin kebersihannya, meskipun buat kantong saya terasa mahal ( T-T ga pengen beli jg sih, coz makanan sdh disediakan panitia).

Selain itu, ditengah-tengah kampus juga ada ruang terbuka besar dengan display berukuran raksasa. Bisa dijadikan tempat nonton bareng sih sebenarnya, mengingat kalau dikumpulkan orang bersila di ruangan ini saya perkirakan bisa mencapai 200 orang (mungkin lebih).

Selain fasilitas tadi, yang saya lihat berbeda dengan di Indonesia adalah fasilitas air bersih. Di Singapore, tap water sudah dijamin oleh pemerintah bahwa layak untuk diminum. Sehingga Ditengah-tengah kampus terdapat beberapa dispenser yang berasal dari tap water ini. Air panas dan dingin disediakan oleh kampus. Kalau saya sebagai mahasiswa di sana mungkin bisa berhemat pengeluaran pembelian kopi atau teh hangat. Lumayan.. 😀

Ada Mushalla ga?
Selama berkeliling di kampus ini, saya baru menemukan satu mushalla. Letaknya ada di lantai 5. Keberadaan mushalla ini cukup kecil menurut saya, hanya dua shaf, dengan kapasitas sekitar 15 orang. Namun demikian, saat adzan, saya melihat banyak mahasiswa dan staf yang antusias untuk melaksanakan shalat berjamaah. Alhamdulillah

Hal lain yang menarik?
Di NTU, toilet kampus cukup bersih, saya mensurvey di beberapa lokasi toilet, dan sepertinya kebersihannya sama diberbagai tempat. Saya nilai toilet-toilet itu bersih dan sehat, selalu siap untuk dipergunakan.

Selain toilet, di NTU program recycle juga ditawarkan kepada penduduk di sana. Hal ini tampak dengan adanya tempat sampah yang siap menampung kaleng-kaleng bekas yang bisa didaur ulang.

NTU juga memiliki pembangkit listrik bertenaga surya. Mereka memasang panel-panel surya di atas atap mereka. Mungkin hal semacam ini perlu kita contoh di Indonesia, mengingat intensitas matahari di negara kita boleh dibilang melimpah.

Di setiap gedung, saya juga menjumpai adanya fasilitas saluran air untuk memadamkan kebakaran. Keberadaaan fasilitas seperti ini penting untuk mempersempit dampak kebakaran. Saya tidak yakin fasilitas seperti ini ada di berbagai gedung di Indonesia.

Selain itu, integrated parking system juga diterapkan di NTU. Dari luar bila kita berkunjung dengan mobil, akan ada beberapa spot yang menampilkan kantong-kantong parkir lengkap dengan jumlah slot parkir kosong. Keberadaan mobil dideteksi dengan pemindai yang dipasang di area parkir.

Gedung-gedung yang ada juga ramah terhadap satwa. Beberapa kali saya kerap menjumpai adanya burung-burung yang bebas terbang dan hinggap di tumbuhan yang berada di kiri dan kanan gedung.

Semoga menginspirasi

Agung Toto Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *