Porsi dan Probabilitas Status Pernikahan bagi Pria dan Wanita

Pernikahan, satu hubungan sakral antar dua insan, berawal dan bermuara pada hati dan janji suci untuk hidup bersama. Hubungan unik ini menghasilkan buah yang bernama buah hati. Dari jaman dahulu kala hingga saat ini banyak pasangan pria dan wanita menjalin hubungan pernikahan. Beberapa insan beruntung mendapatkan pasangan pada masa subur, sedangkan beberapa diberikan ujian untuk terus berusaha mendapatkan pasangan masing-masing.

Tepat satu hari lalu saya memasang status di facebook yang isinya kurang lebih:

“Nikah juga perlu ikhtiar

Apa yang perlu dilakukan? Salah satunya bertanya kepada orang yang dipercaya untuk menghubungkan sang calon. Dari pengalaman pribadi cukup banyak wanita bercerita kalau mereka yang siap menikah, berani mengutarakan, namun tidak mengetahui harus berpasangan dengan siapa. Sampai sekarang belum ada laki-laki yang berujar langsung akan hal yang sama. Semoga Allah berkenan mempersatukan kepingan-kepingan yang berserak, menjadikan mereka pasangan dunia dan akherat. Aamiin..

Teruntuk laki-laki, ada yg sudah siap menikah?”

Banyak komentar yang masuk, beberapa (baik laki-laki maupun perempuan) malu-malu mengakui status mereka bahwa mereka masih lajang. Beberapa memberikan komentarnya secara lugas, dan ada juga yang berjumpa melalui jalur pribadi.

Dari sedikit yang bisa saya simpulkan dari obrolan dan curhat pribadi tersebut adalah: banyak perempuan yang merasa ingin disegerakan, namun belum berkesempatan menikah. Simpulan ini memunculkan beberapa pertanyaan lain: Benarkah jumlah laki-laki dan perempun tidak berimbang? Kenapa laki-laki tidak bersegera meminang perempuan untuk hidup bersama? dan mungkin banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Benarkah jumlah laki-laki dan perempun tidak berimbang?
Pertanyaan ini sebenarnya bisa dengan mudah dijawab dengan data. Namun sebelum menuju data saya akan menjelaskan dari sisi keilmuan lain yang pernah mendiami memori saya : biologi. Dari sisi biologi, seorang manusia memiliki dua jenis kromosom (jumlahnya kalau tidak salah 23 pasang). Seorang perempuan memiliki jumlah kromosom yang sama dengan jumlah kromosom laki-laki. Yang menjadi pembeda antara perempuan dan laki-laki adalah perempuan hanya memiliki jenis kromosom X saja (atau sebut dengan pasangan XX), sedang laki-laki memiliki dua jenis kromosom yakni X dan Y (atau sebut dengan pasangan XY). Dari proses ini seorang wanita yang produktif hanya dapat memproduksi satu jenis kromosom saja yakni X. sedangkan laki-laki dalam proses pembentukan sperma bisa mendapatkan jenis kromosom X ataupun Y.

Saat pembuahan terjadi, yang berperan menentukan jenis kelamin adalah sperma yang dihasilkan oleh laki-laki. Dari sisi probabilitas, kejadian ini barangkali sama seperti kita melempar koin. Pertanyaan apakah akan lahir laki-laki atau perempuan akan mirip dengan pertanyaan apakah yang keluar adalah gambar atau angka jika kita lempar sebuah koin ke udara. Kedua jenis kelamin memiliki probabilitas yang sama yakni 0,5.

Jika dilihat dari sisi biologi keduanya sama, maka benarkah jumlah laki-laki (hampir) sama dengan jumlah perempuan? Untuk pertanyaan ini kali ini akan saya jawab dengan data BPS yang dipublikasikan di tahun 2016. Pada laporan yang dipublikasikan oleh BPS dengan judul “Perempuan dan Laki-laki di Indonesia 2016” Jumlah penduduk laki-laki dan perempuan relatif berimbang. Pada laporan, berdasar sensus penduduk tahun 2010, jumlah perempuan adalah sebanyak 118,01 juta jiwa, dan laki-laki sebanyak 119,63 juta jiwa. Di tahun 2016 Indonesia diproyeksikan memiliki jumlah perempuan adalah sebanyak 128,72 juta jiwa, dan laki-laki sebanyak 129,99 juta jiwa.

Pada laporan yang sama, ditunjukkan bahwa proporsi laki-laki dan perempuan di Indonesia untuk tiap kelompok umur yang sama juga bisa dikatakan berimbang. Gambar di bawah ini menunjukkan demografi tersebut.

Banyak Wanita yang Belum Menikah, Benarkah?
Secara intuisi, pemikiran kita berikutnya mungkin akan berlanjut pada kalimat yang mirip: sebentar-sebentar kalau berimbang, kenapa lebih banyak wanita yang belum menikah? Seperti yang telah saya tuliskan pada status di facebook saya (balik lagi ke atas), banyak wanita yang curhat ke saya bahwa mereka insyaAllah siap untuk menikah, tapi belum juga menikah. Bila kita tilik dari survey curhatan mungkin statemen ini ada benarnya. Tapi bila kita tengok lebih lanjut di laporan BPS yang sama, ternyata jumlah wanita di atas usia 10 tahun yang pernah menikah jauh lebih sedikit dibanding dengan laki-laki. Gambar di bawah ini menunjukkan kondisi itu.

dalam status pernikahan, keduanya sama (berimbang 57% vs 58%). Jumlah wanita jauh lebih banyak mengingat ada beberapa penduduk Indonesia yang melakukan poligami. Namun dari sisi statistik yang belum menikah, Jumlah laki-laki lebih banyak.

Yeey.. berarti wanita memiliki peluang lebih besar untuk menikah dong?
Ya benar demikianlah adanya. Dan itu berita baiknya.

Lalu kenapa yang laki-laki belum menikah bisa lebih banyak?
Kejadian ini mungkin bisa dijelaskan bila ada pasangan yang berpisah (cerai mati atau cerai hidup), laki-laki (duda) lebih fleksibel dalam menikah lagi. Ada kecenderungan perempuan (janda) lebih setia dan masih belum berkesempatan untuk menikah lagi. dengan tarik ulur kondisi laki-laki yan gmenikah berimbang dengan perempuan menyebabkan jumlah laki-laki yang belum pernah menikah lebih banyak.

Alasan lain yang lebih mudah difahami mungkin laki-laki lebih cenderung santai dan tidak terburu-buru untuk segera menikah. Sehingga perempuan(-perempuan yang belum menikah) menikah dengan duda. hal ini akan tarik-ulur dengan proporsi cerai mati dan cerai hidup, berbanding dengan porsi pernikahan wanita dan pria.

Aaaah.. ga faham… * ya sudah, lanjut paragraf berikutnya.

Sebentar… Kok wanita lebih sedikit yang menikah? Kan yang curhat lebih banyak?

Bisa difahami bahwa wanita lebih terbuka mengenai keinginan menikah dibanding dengan laki-laki. Ada banyak alasan menjelaskan statement ini, di antaranya: usia produktif wanita terbatas, disamping itu ada pula stigma negatif, pertanyaan kapan nikah, dan alasan lainnya. Perempuan dengan kehamilan pertama di atas 35 tahun sudah bisa dikatakan sebagai resti (resiko tinggi).

Bagi laki-laki, banyak diantara mereka yang masih nyaman dengan kondisi single. Bebas jalan ke mana-mana, menjadi penanggung jawab bagi adik-adiknya, atau berbagai alasan lain. Laki-laki lebih cenderung cuek, atau ada pula yang lebih memilih.

Kedua perbedaan kondisi itu menjadikan perempuan jauh lebih terbuka untuk menyatakan keinginannya dalam menikah. Namun sisi positifnya adalah lebih banyak laki-laki yang belum menikah, hal ini menjadikan probabilitas orang yang curhat akan lebih sedikit (melalui pernikahan tentunya). Aamiin…

Mohon maaf atas kesalahan analisa yang ada mengingat tulisan ini hanya analisa dari seorang yang awam yang sok tau.

Agung Toto Wibowo

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *