Berlaku Adil Terhadap Objek Tunggal

Kata adil sudah sering dimaknai dengan memberikan sesuatu yang seimbang kepada kedua(berbagai) pihak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering pula melihat timbangan sebagai logo yang melambangkan suatu keadilan. Dalam berbagai situasi, adil dituntut “sama”. Sama dalam artian sesuatu yang diberikan kepada kedua(berbagai) pihak benar-benar sama. Sebagai contoh dalam kondisi memberikan seragam kepada dua(atau lebih) orang yang berbeda, memberi besaran ongkos transport dalam jarak yang sama, dan sebagainya. Namun terkadang adil juga dapat diartikan memberikan sesuatu sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh memberikan kebutuhan anak yang berusia 1 bulan akan berbeda dengan anak yang berusia 1 dekade. Meskipun angkanya sama-sama 1.

Apa sih yang kamu maksud dengan adil pada objek tunggal?
Sepertu judul yang telah tertulis, kali ini saya akan menulis sebuah opini mengenai berlaku adil terhadap objek tunggal. Opini ini didasari atas pemikiran bahwa sangat jarang orang yang memahami kalau kita juga harus berperilaku adil kepada objek tunggal. Disadari atau tidak, keadilan bagi objek tunggal ini muncul dalam banyak kesempatan. Saya akan ambil contoh baju yang sedang kita kenakan, agama yang kita miliki, motor yang sedang kita kendarai, atau bahkan satu porsi makanan yang sedang dihadapan kita.

Menurut saya berlaku adil bisa dimaknai sebagai memberikan tindakan terbaik kepada objek yang kita dihadapi. Makna ini berarti bahwa kita memberikan kewajiban kita kepada objek, dan tidak melanggar hak-hak istimewa yang dimiliki si objek. Memberikan kewajiban berarti kita(sebagai subjek) mengetahui bagaimana kita memperlakukan objek tersebut. Kita selaku pengendara kendaraan tentunya menginginkan kendaraan ini mampu mengantarkan kita sampai di tempat tujuan dengan selamat. Nah salah satu kewajiban yang perlu kita berikan antara lain adalah memastikan kendaraan ini tidak mengalami kecelakaan di tengah jalan. Banyak hal seperti berkendara yang berhati-hati, mematuhi rambu lalulintas, menjaga kondisi kendaraan dan sebagainya.

Contoh lain dong yang banyak?
Ambil contoh lain dalam hal beragama. Sudah mahfum bahwa masing-masing dari kita (mayoritas) masyarakat Indonesia memeluk satu agama. Berlaku adil terhadap agama juga bisa dimaknai sebagai menjalankan tuntunan agama, seiring dengan menjaga nama baik agama yang kita anut.

Dalam kasus multiobjek seperti di contoh anak 1 tahun dan 1 dekade, kita bisa dengan gampang memahami bahwa masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda. Anak 1 tahun lebih membutuhkan asupan gizi, perhatian dan kasih sayang kita terhadapnya. Kebutuhan anak 1 dekade lebih meningkat lagi dimana kita harus memperhatikan kebutuhan pendidikan dan juga perlilakunya.

Memenuhi kebutuhan juga merupakan satu hal yang penting untuk berlaku adil terhadap objek tunggal. Bila ibu kita sakit, ada kebutuhan untuk mengikhtiarkan ibu berkonsultasi ke dokter, berobat, dan merawat kondisi beliau. Apabila kita tidak melakukannya, bisa dikatakan kita sudah tidak berlaku adil terhadap ibu kita.

Tubuh yang kita miliki juga merupakan objek tunggal. Tidak ada manusia di dunia ini yang memiliki lebih dari satu tubuh dengan nyawa yang melekat didalamnya (mohon maaf dalam opini kali ini saya sedang membahas mengenai manusia secara umum). Ada hak-hak yang perlu kita penuhi terhadap tubuh ini, diantaranya menjaga kesehatan, asupan gizi baik jasmani maupun rohani, memastikan otak kita berkembang ke arah yang lebih baik, menjaga hati kita, dan sebagainya. Tubuh kita memerlukan aktifitas dan juga istirahat.

Bila kita senang berkebun, dan kita hanya memiliki lahan yang sangat terbatas (misal hanya cukup untuk 1 tanaman/pohon), maka sudah selayaknya kita juga tidak memaksakan diri untuk menanam tanaman/pohon melebihi kapasitasnya. Memastikan tanaman kita berkembang dengan baik juga merupakan bagian dari berperilaku adil terhadap objek tunggal ini.

Dalam berbagai kondisi, menjaga kesempatan dan amanah juga merupakan bagian dari berperlaku adil terhadap objek tunggal. Sebagai contoh saya pribadi saat menulis artikel ini sedang menjalankan amanah untuk studi di University of Aberdeen. Amanah ini diberikan dengan proses penandatanganan kontrak antara saya dengan LPDP sebagai pemberi beasiswa, dan antara saya dengan Telkom University institusi tempat saya bernaung. Dalam berperlilaku adil terhadap amanah ini, sudah selayakny saya wajib meastikan studi yang saya jalani berjalan dengan baik.

Sudah berlaku adil, tapi hasil tidak baik
Sama halnya dengan hakim dalam memutuskan suatu perkara. Barangkali sering seorang hakim memutuskan suatu perkara sesuai dengan aturan yang ada, dengan segala pengetahuan dan pertimbangan yang lakukan berhati untuk memutus perkara seadil-adilnya. Namun dalam berbagai keputusan sepertinya keadilan hanya berlaku pada satu pihak saja. Bila kita sudah menjaga hak-hak tubuh, tidak memaksakan sesuatu yang berlebihan kepada tubuh, terkadang tubuh bisa saja sakit. Menurut saya pribadi adalah hal yang wajar. Kalau kita tidak menjaga tubuh kita, maka itu yang tidak diperkenankan.

Wallahu A’lam Bish-Shawab.

Agung Toto Wibowo

Image diambil dari:
http://www.samyrabbat.com/media/k2/items/cache/d1f5e54e0b476bc0b5514643f4c54588_XL.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *