Nyicip Lebaran di Aberdeen

Alhamdulillah, tidak terasa kami merasakan hangatnya suasana lebaran kebersamaan dengan diaspora di kota Aberdeen Scotlandia. Tahun 2016 adalah kali pertama saya merasakan lebaran di negri William Wallace ini. Sedih sebenarnya, karena kala itu saya harus jauh dari anak dan istri serta orang tua yang berada di pulau Jawa.

Acap kali menengok suasana arus mudik dan balik di Indonesia hati kami memberontak. Ingin pakai banget nget nget nget… Kami sadar bahwa mudik adalah satu kemewahan hakiki yang teramat mahal. Betapa tidak, untuk menjejakkan kaki ke tanah yang berjarak 12ribu km kami harus rela meluangkan waktu yang cukup lama, dengan biaya yang bisa dibilang super wow.

Suhu di kota ini lebih sering dingin, namun di sini kami menemukan keluarga yang senantiasa memberikan kehangatan dengan nuansa kemesraan dan kebersamaan. Beberapa kali kami menghabiskan kegiatan bersama dalam bentuk potluck (ngariung :sd), ataupun kegiatan yang dikoordinir oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Aberdeen.

Suasana Shalat Ied
Shalat Ied di Aberdeen dikoordinir oleh masjid, dalam 3 syawal ke belakang, saya melihat Aberdeen Mosque and Islamic Centre (AMIC) memiliki peranan yang dominan. Untuk menyelenggarakan shalat Ied, AMIC biasanya menyewa satu aula besar yang berlokasi di Beach Ball Room, atau di Beach Leisure Centre. Tempatnya indah, berada di pinggir pantai Aberdeen. Untuk mencapai ke lokasi kami biasa berjalan kaki dari flat.

Gema takbir berkumandang selama menunggu shalat Ied, dan setelah shalat Ied. Di Aberdeen, shalat Ied dibagi menjadi dua shift. Waktu pelaksanaan sekitar pukul 09.00 dan 10.30. Hal ini dilakukan mengingat populasi muslim di kota ini terhitung banyak, sedangkan penyelenggara shalat Ied hanya ada satu (2 di tahun 2018, satu dikoordinir oleh Masjid Al-Hikmah).

Di sini, muslim di Aberdeen yang berasal dari berbagai penjuru dunia datang dan berkumpul bersama untuk melaksanakan shalat. Satu positif yang saya rasakan adalah antar anggota komunitas dibiasakan untuk saling membantu sama lain. Untuk penyelenggaraan shalat Ied, AMIC biasa memerlukan volunteer dari jamaah yang ikhlas membantu. Volunteer ini biasa diberikan rompi khusus untuk memudahkan orang dalam mencari informasi dan bantuan.

Shalat Ied dilakukan menurut fiqih shalat Ied, dalam 2 rakaat, di rakaat pertama 7 kali takbir, dan 5 kali takbir pada rakaat kedua. Di akhir imam memberikan 2 khutbah. Sebelum proses shalat Ied, penyelenggara biasanya mengumumkan bagi jiwa-jiwa yang belum membayar zakat fitr agar dapat membayar sebelum proses shalat dimulai. Besaran zakat fitr diperkirakan sekitar 5 poundsterling.

Foto Bersama Jamaah Indonesia
Jamaah Indonesia bisa terbilang adalah jamaah yang paling heboh dalam merayakan Ied. Betapa tidak, foto bersama sudah menjadi tradisi kami selepas shalat. Disamping tak lupa satu sama lain saling memaafkan kesalahan baik yang disengaja ataupun yang tidak di sengaja.

Lokasi penyelenggaran yang dekat dengan pantai, dan berada di ruang terbuka membuat kami nyaman menikmati prosesi foto bersama. Foto per group jamaah berdasarkan gender ataupun group hangout kami lakukan dengan suka cita. Pernah suatu ketika saking riangnya kami berfoto bersama, kami tidak sengaja menghambat arus keluar mobil. Sebenarnya tidak ada dari kami yang berada di lajur mobil, baik yang memotret ataupun yang dipotret. Namun, karena sopir (kalau tidak salah dari Pakistan) melihat antusias kami yang luar biasa, dia malah memotret kami dari dalam mobil. 😀

Bagaimana Kami Bersilaturahmi?
Di setiap lebaran, setidaknya ada beberapa kesempatan silaturahmi yang kami miliki. Silaturahmi bisa dalam bentuk berkunjung ke rumah warga Indonesia yang bekerja di sini, berkumpul ke salah satu tempat tinggal pelajar Indonesia, atau silaturahmi di kegiatan bersama antara PPI dan diaspora di Aberdeen.

Semua kesempatan silaturahmi selalu berjalan hangat dengan canda tawa yang renyah. Kegiatan seperti ini tentu mempererat persaudaraan diantara kami. Kami sadar kemewahan yang tidak bisa kami cicipi dengan pulang ke Indonesia bisa kami gantikan dengan kemewahan dalam bentuk persaudaraan di Aberdeen.

Anak-anakpun happy dengan kegiatan ini. Pantia biasa mendesain kegiatan yang ramah anak. Tahun ini ada pembagian suvenir bagi anak-anak, dan juga stand makanan khusus bagi anak-anak.

Makanan?
Masalah makanan Alhamdulillah beberapa dari kami jago masak. Satu sama lain saling membawa makanan andalannya. Menu opor ayam dengan sambal ati bisajadi wajib tersedia. dari tahun-ke tahun saya belum pernah tidak menemukan menu ini di perayaan Ied kami. Menu buah-buahan juga banyak tersedia. Alhamdulillah cukup untuk menemani kekeluargaan kami.

Apa yang beda?
Satu hal yang menarik mungkin di tahun ini, dalam kegiatan yang dikoordinir PPI dan warga beberapa anak-anak tampak antusias dan ceria.

Dua orang anak (Arya dan Aila) menceritakan perjuangan mereka shaum Ramadhan di musim summer. Sebagai contoh pengalaman Arya yang merupakan muslim satu-satunya di sekolahnya. Teman-temannya takjub dia shaum ramadhan hingga maghrib. Kalau saya tidak salah ingat, ada salah satu diantara teman Arya yang berceletuk, mungkin saya bisa mati bila fasting selama itu. Di musim ramadhan ini, Arya diberikan dukungan yang kuat oleh bapak dan ibunya. Keluarga Arya membuat checklist dari tanggal 1-30 Ramadhan dengan berbagai kegiatan Islam. Masing-masing kegiatan memiliki poin tersendiri, dan diakhir poin yang terkumpul dapat dikonversi menjadi reward dalam bentuk buku dan nomina uang.

Libur bersama mungkin juga menjadi pembeda. Bagi kami yang memiliki anak yang sedang sekolah, proses perijinan bagi anak sangat mudah. Kami hanya perlu sms ke nomor sekolah, menjelaskan bahwa si anak sedang merayakan hari besar agama. Sangat simple prosesnya.

Libur kuliah? Nah ini yang benar-benar berbeda. Sebenarnya kami (siswa PhD) memiliki previllage untuk memanfaatkan waktu sebebas mungkin. Kami tidak diwajibkan untuk datang setiap hari. Jadi bisa dikatakan kami bisa mengatur kapan kami berlebaran dan kapan kami tidak berlebaran. Namun, pengalaman pribadi saya di tahun 2018, satu hari sebelum lebaran saya diminta untuk diadakan supervision meeting. Saat itu entah kenapa saya menolak dengan mengatakan alasan lain (belum memiliki progress signifikan). Lebaran bagi kami bukan berarti libur panjang yang bebas kami manfaatkan. Beberapa dari kami sadar ada tenggat yang harus diraih, ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebagai contoh Bagindo Kemas yang sudah rapi jali di office di hari Senin (4 Syawwal) mengerjakan prosesi pembuatan kode program. Subhanallah, semoga Allah berkenan memudahkan kegiatan beliau.

Enak mana? Lebaran di Indonesia atau di Aberdeen?
Bagi kami pribadi (keluarga) berlebaran di Indonesia adalah yang paling nikmat. Suasana silaturahmi dengan orang tua, tetangga, dan keluarga dekat adalah suatu kenikmatan dari yang sungguh nikmat. Namun, di sini kami memiliki keluarga yang membantu kami dalam proses studi, proses adaptasi. Kebersamaan kami disinipun merupakan satu kenikmatan dari Allah yang sungguh nikmat.

Kali ini lebaran di Indonesia adalah satu kemewahan. Esok hari lebaran bersama diaspora Indonesia akan menjadi kemewahan yang akan kami kenang.

Semoga Allah berkenan memberikan ampunan dan barakah bagi kami, keluarga kami, rekan-rekan kami, dan semua umat muslim di dunia. Aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *