Mengenang Tour d’UK (Ramadhan 1437H)

Alhamdulillah tahun ini adalah tahun ketiga berkesempatan untuk menjalani shaum di Scotland. Di kota Aberdeen kami menjalankan shaum dalam durasi antara 19-20 jam. Maklum tahun-tahun ini Ramadhan bertepatan dengan summer.

Kali ini saya tidak akan bercerita tentang Ramadhan itu sendiri, melainkan mengenang kegiatan Safari Ramadhan terindah yang pernah saya lakukan di UK. Lebih tepatnya perjalanan dilakukan tanggal 10 Juni 2016 pada Ramadhan 1437 H. Perjalanan ini adalah ide dari pembimbing di mana beliau menyarankan saya untuk mengambil beberapa hari off setelah ditahun pertama mengirimkan publikasi pertama dalam kehidupan PhD saya.

Di Safari Ramadhan 1437H saya berkesempatan menyambangi 7 kota: Glasgow, Edinburgh, Manchester, Leeds, London, Salisbury, dan Southampton. Dalam perjalanan berdurasi 8 hari 9 malam tersebut saya ditemani dengan beberapa teman seperjuangan yang juga menempuh studi di kisaran UK. Tidak semua ikut tour gila ini dari Aberdeen ke 7 kota tersebut, tapi masing-masing kota saya mendapati teman-teman yang berbeda, mulai dari Kemas, Guntur, Ima, Irfan, Berli, Geng Jan 2016, dan Icha.

Mahal ga?

Well menyambangi 7 kota di UK dalam 10 hari barangkali pertanyaan pertama yang terbayang di kantong mahasiswa adalah mahal/tidak? Jawabannya adalah tidak sama sekali.

Nah ada beberapa tips yang saat itu saya lakukan guna memangkas biaya perjalanan. Tips pertama adalah lakukan saat Ramadhan. Perjalanan saat Ramadhan akan menjauhkan kita dari godaan kuliner dan kebutuhan akan makan siang. Tapi kan butuh sahur dan berbuka juga? Saat itu Alhamdulillah saya berkesempatan untuk melipir ke masjid-masjid dan shelter rekan-rekan PPI.

Tips kedua berkaitan dengan tips pertama yakni dapatkan shelter dimasing-masing kota. Alhamdulillah tahun itu saya memiliki banyak saudara-saudara baik yang mau menampung saya untuk tidur dan meluruskan punggung. Mulai dari mas Danang di Glasgow, Mbak Bhakti Nusantari di Edinburgh, Om Guntur dan Tante Ima di Leeds, mas Irfan di London. Di kota terakhir saya ditampung oleh mas Qill Bel yang hilang menuju Belanda, dan akhirnya saya diasuh oleh mbak Masayu Dada dan mas Agung Utomo.

Tips ketiga adalah rencanakan dari jauh hari dan pilih moda transportasi termurah ala backpacker. Saat itu saya memilih menggunakan Megabus dengan reservasi 1 bulan sebelumnya. Alhamdulilillah perjalanan antar kota mendapatkan tiket-tiket murah yang berkisar antara 1 hingga 3 pounds. Lumayan 20rb sdh bisa ngider ke berbagai kota.

Tentunya kombinasi ketiga tips tersebut perlu dikoordinasi dengan sangat baik. Alhamdulillah banyak saudara baik di UK.

Ngider di Glasgow

Bertolak dari Aberdeen, tujuan pertama adalah Glasgow. Uda Kemas saat itu berkenan menemani saya untuk berjalan-jalan setelah di bujuk beberapa kali untuk turut serta. Maklum dia masih ragu antara ngider atau stay di kampus. Baru datang bulan Mei 2016 (1 bulan). 😀 sorry ya Kem.

Sesampainya di Buchanan Bus Station, saya dan Uda Kemas berjalan ke George Square. Kesan pertama dengan Geore square adalah bangunannya megah. Tempat ini lebih tepatnya adalah alun-alun kota Glasgow. Di sini saya melihat riuh gaduh penduduk Glasgow yang menikmati hari. Summer bagi mereka adalah kesempatan yang tidak bisa dilewatkan untuk hanya sekedar duduk atau memberi makan burung merpati.

Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki ke University of Glasgow. Saat itu kami harus bergegas karena ingin mengejar shalat jumat di Dawatul Islam Glasgow. Alhamdulillah sampai di masjid dengan selamat. Sekilas masjid Dawatul Islam tidak terlihat seperti kebanyakan masjid di Indonesia. Masjid ini bersatu dengan hunian lain, dengan pintu masuk harus menuruni tangga basement. Alhamdulillah bisa shalat Jumat bersama dengan muslim di sana.

Selepas shalat Jumat, kami berjalan santai menuju University of Glasgow. Foto-foto dikampus yang indah. Kampus ini adalah kampus tertua no 4 di UK (Aberdeen masih kalah tua ouy – CIMIW). Satu hal yang unik dari kampus ini yang tidak boleh dilewatkan adalah bermain dimuseumnya. Selain gratis, koleksinya juga sangat lengkap. Mulai dari awetan berbagai mahkluk hidup hingga “jarahan” budaya dari mesir.

Setelah kurang lebih 1 jam kami menikmati University of Glasgow, kami berjalan menuju ke Kelvingrove Art Gallery Museum. Alamak… Banyak sekali koleksinya. Pantes orang-orang di sini dapat banyak ide-ide film kuno. Sejarah mereka terawat dengan baik di Museum ini. berkunjung ke Museum ini seakan tidak akan lelah memandangi satu persatu koleksinya. Satu yang menurut saya menarik dari museum ini adalah museum dibuat disable dan kids friendly. Yang berkesempatan datang ke sini mampir deh.

Capek menghabiskan 2 jam di Kelvingrove kami lanjut ke rumah mas Danang. Beliau sebenarnya sesepuh bagi teman-teman PPI Aberdeen. Namun saat itu beliau sedang menemani istrinya (Mbak Ira) untuk melanjutkan kuliah di Glasgow. Alhamdulillah malam aman. Menu berbuka sudah disiapkan mbak Ira, dan kamipun berbuka, shalat dan sahur bersama. Terma kasih mas D, semoga menjadi amal jariyah danbarakah untuk keluarga mas D.

Hari 1: Biaya makan = 0 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Terpana dengan keindahan Edinburgh

Pagi hari setelah dada-dada ala India dengan mas D, kami bertolak ke Edinburgh.  Sampai di Victoria Bus Station kami tak sanggup menahan hasrat alam. Alhamdulillah di stasiun ini ada toilet umum yang bersih, dilengkapi dengan wifi gratis lagi. Jadi kami bisa menikmati hajat dengan berselancar ria.

Keluar dari stasiun tak kurang 200 meter kami sudah disuguhi dengan bangunan megah yang terbuat dari batu maha besar. Bukan menu utama kami di kota ini. Bangunan ini adalah hotel … ah lupa namanya. Rasa udik bercapur takjub menghinggapi diri. Alhasil Kemas jadi korban untuk mengambil beberapa foto. Disamping tentunya melihat Scott Monument dari lebih dekat.

Jalan sedikit, kami bergegas menuju penginapan mbak Bhakti Nusantari. Setelah calling-calling to you akhirnya bisa sampai ke tempat beliau, menaruh barang bawaan, dan ngobrol tentang tujuan yang bisa kami kunjungi. Di akhir pembicaraan, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan menuju National Museum of Scotland.

Di National Museum of Scotland satu-persatu koleksi kami lihat, bahkan sampai lamaaaa sekali. Di museum ini koleksi tidak hanya yang berasal dari Scotland saja, tapi dari berbagai penjuru dunia. Sebagai contoh patung Budha, di museum ini mereka memajang patung Budha yang berasal dari China, Jepang, dan berbagai negara di Asia. Bentuk patung Budha ini beragam dan berbeda dari tiap-tiap negara. Koleksi hewan-hewan dan tulang-belulang fosil yang mereka milikipun sangat banyak. Mereka menata semuanya dengan apik, dan again, di tiap-tiap ruang selalu ada bagian yang mengajak anak-anak kecil untuk bermain dengan mereka. Biar anak-anak tidak bosan.

Lelah dengan takjubnya koleksi National Museum of Scotland, kami bertolak menuju ke Edinburgh Central Mosque. Tujuan utama tentu shalat di masjid ini. Setelah selesai shalat Ashar, kami bertemu kembali dengan mbak Bhakti yang masih sibuk dengan disertasinya. Jadilah kami merebahkan badan di salah satu sudut University of Edinburgh. Alhamdulillah dapat tempat nyaman, yang paling penting mampu membuat mata kami terlelap hingga mendekati maghrib. Maghrib kami kembali ke Masjid untuk shalat maghrib, daan… berbuka puasa di sana. Alhamdulillah. Selepas berbuka kami menuju ke penginapan mbak Bhakti untuk shalat Isya, Tarawih, dan sahur bersama. Mbak Bhakti, ayo masak bareng lagi, nanti aku yang ngiris bawang wis. 😀

Hari 2: Biaya makan = 0 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Keesokan harinya, kami menuju ke istana ratu (lupa nama tempatnya), mendaki sedikit ke Arthur Seat, ke makam Adam Smith, balik ke Museum, foto sebentar di Greyfriars Bobby, Nyari makamnya Voldemort (ga ketemu), lanjut ke Edinburgh Castle.

Bagi teman-teman yang berkesempatan ke sini, jangan lewatkan Edinburgh castle ini. Bayangan castle-castle kerajaan yang megah sangat jelas terlihat. Secara alami Edinburgh castle merupakan bangunan kokoh yang sulit untuk di serang. Berada di puncak bukit, dengan sekitar castle adalah jurang berbatu yang tinggi. Hanya satu jalur masuk menuju castle ini, membuat Edinburgh Castle adalah pertahanan yang sangat baik (waktu itu).

Puas dengan castle, kami lanjut ke Art Gallery. Di sini kami disuguhi berbagai koleksi lukisan indah dari abad 15. Bagi teman-teman yang suka akan lukisan, tempat ini sangat saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Lepas Art Galerry kami lanjut ke Victoria Bus Station dan kembali ke Glasgow.

Balik ke Glasgow

Perjalanan kembali ke Glasgow kami lakukan untuk menghemat biaya. Sebenarny kota berikutny yang menjadi tujuan adalah Manchester. Namun dikarenakan harga tiket Edinburgh-Manchester mahal, maka perjalanan kami pecah menjadi Edinburgh-Glasgow, dan Glasgow-Manchester.

Sore hari menjelang maghrib kami tiba di Buchanan Bus Station. Saat itu, Kemas menawarkan ide untuk pergi ke Glasgow Central Mosque. Subhanallah, ternyata masjidnya besar sekali, seneng banget saat masuk di masjid ini. Sembari menunggu shalat maghrib, kami tadarus Qur’an, dan mengantre untuk menunggu ta’jil. Di masjid ini, para jamaah diminta antre berderet di samping masjid dengan tertib sebelum kurma, air minum dan buah-buahan lain dihidangkan.

Setelah membatalkan shaum dan shalat maghrib, kami dihantarkan ke aula yang letaknya terpisah dengan serambi masjid. Ruangan ini sebesar 3 lapangan bulutangkis. Di sini Alhamdulillah sudah tersedia makanan ala pakistan yang dihidangkan gratis bagi para jamaah. Alhamdulillah. Tidak hanya itu saja, saat hendak melanjutkan perjalanan kami pun masing-masing satu porsi makan untuk bekal sahur. Alhamdulillah.

Hari 3: Biaya makan = 0 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Menjadi gelandang di Manchester
Tujuan kami berikutnya adalah Manchester. Kami sengaja memilih perjalanan malam dari Glasgow ke Manchester. Tujuannya adalah mengurangi biaya menginap, dan bisa menikmati Manchester dikeesokan harinya. Saya ingat sampai di Shudehill Bus Station sekitar pukul 4 pagi. Kami menunggu di stasiun bus, dan melanjutkan perjalanan ke University of Manchester.

Di University of Manchester, kami menumpang mandi di salah satu toilet kampus. Beruntung saat itu penjaga tidak curiga terhadap kami dan kami tidak ditanya satu pertanyaanpun. Di sini kami menunggu sedikit siang hingga Old Trafford buka beroperasi. Mendekati jam Old Trafford buka, kami menuju ke sana dan tara…. foto-foto sekitaran stadion (engga masuk T-T), dan masuk ke toko resminya. mengingat saya bukan penggemar berat sepak bola, jadi pengalaman seperti ini sudah wah bagi saya.

Kami kembali ke University of Manchester untuk bertemu dengan om Guntur. Di sana kami menghabiskan waktu bercengkrama, dan berfoto bersama. Kemudian lanjut ke Manchester Museum yang masih berada di lingkungan University of Manchester, sebelum akhirny bertemu dengan tante Ima (istrinya om guntur).

Terlambat menuju ke Leeds
Tujuan kami berikutnya adalah ke rumah tante Ima dan om Guntur. Namun, dikarenakan jam kami untuk bertolak menuju ke Leeds selisih 1 jam, akhirnya kami berpisah. Kami berdua menuju ke Shudehill dengan bus kota, dan karena sudah terlalu capek hari ini, saya pun terlelap. Efek dari terlelap yang sekejap ini adalah kami tersesat di Manchester. Lebih sialnya lagi adalah saat ingin kembali ke Shudehill kami mengambil bus yang arahny menjauh. Alhasil semakin tersesat.

Lama menunggu dan ganti bus saya dan Kemas sudah khawatir kalau tidak bisa mencapai Shudehill pada jam yang tertera di tiket. dan benar. Kami baru sampai di Shudehill tepat saat bus berikutnya akan berangkat. capek lari-lari kami pun bertanya ke petugas apakah boleh kami membeli tiket menuju ke Leeds? Petugas menjawab tiket hanya bisa dibeli online, hati ini khawatir mengingat jam sudah menunjukkan bus harus berangkat. Kami pun menjelaskan kalau kami sudah memiliki tiket untuk shift sebelumnya, namun kami tersesat. dan kami ingin pergi menuju Leeds. Setelah kami tunjukkan bukti tiket yang sudah hangus, akhirnya petugas itu mengijinkan kami untuk masuk ke bus yang menuju ke Leeds. Alhamdulillah.. Barakah Ramadhan. Di dalam bus kami hanya bisa saling pandang atas kemurahan hati yang kami terima, dan terlelap tentunya.

Di Leeds tujuan kami bukan jalan-jalan menikmati kota, namun lebih pada istirahat dan silaturahmi ke Ima dan Guntur sekeluarga. Maklum bertemu teman di negeri orang adalah kesempatan yang sangat berharga. Alhamdulillah mereka berkenan mengosongkan 1 kamar untuk kami tempati dan berkenan mempersiapkan menu berbuka dan santap sahur bagi kami. Sepertiny ini adalah pertama kali bagi Ima dan Guntur mempersiapkan buka dan santap sahur. Terima kasih ya bu Ima makanannya lezat sekali. kami lahap lho waktu itu ^_^

Hari 4: Biaya makan = 0 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Pagi harinya, kami sedikit bersantai di rumah, dan menunggu waktu yang cocok untuk keluar. Di pagi itu kami berkesempatan berkeliling di tengah kota, mengunjungi University of Leeds dan memasuki Leeds City Museum. Di musium ini kami sempat secara langsung melihat mumi yang menjadi koleksi andalan di sana, disamping berfoto dengan wig ala-ala jaman abad ke 16.

Dari Leeds saya bertolak menuju ke London, sedangkan Kemas kembali menuju ke Aberdeen.

Sendirian Menuju London

Pertama masuk ke London berhenti di Victoria Bus Station. Mengingat jarak yang tidak jauh dari Buckingham Palace, jadilah jalan kaki menuju ke sana. Ngider ngelihat istana ratu kayak orang udik gitu. Di depan pager, moto, jalan 1 meter lagi moto lagi, ada turis minta difotoin, jalan ke sisi lain foto lagi, sampai hampir habis deh memori. Kalau tidak ingat masih ada objek lain, sdh aja berhenti di situ.

Beruntung hari masih terang, dan alhasil jalan menyusuri St James Park untuk menuju ke Wesminster. Foto2 Bigben. lumayan, sama London Eye.

Oh iya, di London, aku ada teman baik dong yang mau menampung aku selama di sana. Namanya mas Irfan l. Sarhindi, teman PK 40 lpdp. Doi saat itu kuliah di University Collage London (bener tha kang?). Saat di Big Ben, waktu aku gunakan untuk menunggu beliau sambil menunggu maghrib datang. Dan… baiknya kang Irfan ini ternyata sdh menyiapkan makanan buat berbuka. Alhamdulillah.. Semoga barakah kang Irfan. Buka termanis di UK. Lepas berbuka, kami langsung kembali ke flat beliau.

Hari 5: Biaya makan = 0 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Keesokan harinya mas Irfan yang khawatir dong kalau-kalau aku tersesat di London. Beliau menjelaskan sistem tube dan bus di London, termasuk zona-zonanya. Sampai-sampai di pagi hari mas Irfan nganter sampai ke depan pintu Shelock Holmes Museum dong.

Lepas dari Sherlock Holmes Museum saya langsung cabut gabut menuju ke The National Gallery. Koleksinya lebih banyak dari Scottish National Gallery, namun kurang lebih kesannya sama. Ga banyak gerak, karena sdh cape dan pengen pergi ke menu utama dari perjalanan kali itu.

Menu utama hari itu adalaah… Coldplay… yeey… Sebenernya ini alasan utama kenapa saya keluar kandang. Jadi ceritanya saat itu ada om Edwin yang sudah punya tiket Coldplay tapi entah karena alasan apa beliau tidak mau nonton. Alhasil aku yang diminta gantiin dia. Baik banget kan teman-temanku.. ^_^

Malam itu aku ke Wembley Stadium buat nonton Coldplay bareng sama teman-teman Jan 2016 (ada Amy, Geni, Fira, Rahma, Kania, Reza, Nicky, dan Thabi. Andri ikut ga sih?). Performancenya ciamik banget. Yang aku suka dari performancenya adalah jam tangan yang tau-tau bisa kerlap-kerlip. Malam hari indah banget. jadi. Saat si Chris Martin (alm) ngider ke sana kemari diatas panggung bawain lagu-lagu yang sdh sempat aku pelajari sebelumnya (enak2, suka), kadang jam yang kita pakai nyala dengan sendirinya. Menambah meriah suasana. Orang-orang yang ada di stadion pada sorak-sorai nyanyi lagu bersama-sama dong. Ada postingan video kalau mau lihat. Di FB aku yak. Samperin deh dimari.

Habis Coldplay, yang saya amaze banget adalah bagaimana transportasi London berjalan. Saya ingat suasana antrean mengular puanjaaaang dan lebaar lautan orang deh, namun mereka dapat mengatur dengan baik. Jadi kebetulan dekat stadion tempat konser ada statsiun Tube. Nah sekitar 200 m dari gerbang stasiun, ada semacam lolipop man yang jaga dan ngatur lalulintas orang-orang ini. Kalau di dalam stasiun penuh, orang-orang diberhentikan. Dan mereka nurut dong. Itu faktor pertama. Faktor kedua, di dalam stasiun sendiri sudah ada monitor penunjuk arah, disamping petugas yang cukup dan mumpuni untuk mengarahkan. Terutama kepada turis-turis yang belum terbiasa dengan sistem Tube mereka. Faktor ketiga adalah di stasiun itu ada banyak gerbang untuk menuju ke arah yang berbeda. Faktor terakhir yang paling penting menurut saya adalah Tube jalan setiap kurang dari 5 menit sekali. Saya sendiri ingat 30 menit antri langsung dapat tempat Tube. Balik deh ke tempat kang Irfan lagi. Beliau masih terjaga. Orangnya seneng belajar, jadi masih lembur ngerjakan disertasi.

Oh iya, mengingat saya musafir, dan sedang shaum, saat itu saya cm jajan ala kadarnya buat pengganjal perut. kurang dari 10 GBP lah.

Hari 6: Biaya makan = 10 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Hari berikutnya lanjut lagi dong jalan-jalan. Kali ini ditemani sama kang Irfan setengah hari, menuju ke King Cross dan juga London Library. Mas Irfan punya tempat favorit di sini. Jadi doi nongkrong sambil menikmati hari. Selepas dari library, kami berpisah, mas Irfan menuju ke kampus, sendag aku menuju ke British National Museum.

Di British National Museum saya sangat amazed banget dengan koleksi yang dimiliki. Bila Scottish National Museum memiliki koleksi yang terbilang wah, kali ini British National Museum koleksinya lebih wah pangkat entah berapa. Ada banyak sekali deh. Koleksi dari berbagai penjuru dunia, dari jaman abat firaun sampai abad modern pun ada. Gak sanggup kaki ini menjelajah seluruh ruangan di British National Museum. Sengaja hari itu aku tidak mau terlalu capek, jadilah hanya ngider seperlunya.

Sore hari teman PK 40 lpdp yang lain yakni mas Berli merapat. Kami sempat ngobrol lumayan lama (sekitar 2 jam), kesana-kemari sebelum akhirnya bertemu dengan teman-teman Aberdeen angkatan Jan 2016.

Buka puasa ditraktir di Nusa Dua bareng teman-teman Jan 2016 oleh pak Deputi bidang kemaritiman (T-T lupa persisnya). Alhamdulillah.. semoga Allah mengganti dengan yang lebih banyak dan lebih baik.

Hari 7: Biaya makan = 0 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Keesokan harinya saya bergegas menuju ke Salisbury untuk melihat Stonehenge. Yeey..

Bertemu anak bimbingan di Salisbury

Perkenalkan, namanya Annisa. Panggilan Icha. Dia single, saat ini sudah lulus Magister di bidang keamanan jaringan dari University of Southampton. Saya beruntung Icha mau menjadi guide selama saya mengunjungi Stonehenge.

Stonehenge dipercaya sebagai monumen prasejarah. Dia berlokasi di Amesbury Salisbury. Bagi teman-teman yang ingin mendatangi lokasi ini, saya akan menceritakan satu buah fakta. Sebelum datang menyaksikan secara langsung monumen ini, yang terbesit di benak saya adalah satu tempat wisata yang cukup besar. Saya membayangkan sebesar candi Borobudur. Namun saat saya melihat langsung situsnya, ekspektasi berkurang. Besar situs tidak lebih besar dari satu buah candi Prambanan. Dari tinggi mungkin lebih rendah dari menara Kudus.

Namun demikian rasa antusias untuk berfoto dan mengabadikan momen masih sangat tinggi. Alhasil kami hanya ngobrol dan berfoto di sana kurang lebih satu setengah jam, sebelum dilanjutkan ke Katedral Salisbury.

Katedral Salisbury menurut saya sangat indah. Dibangun pada abad 13, dimana di dalamnya terdapat perjanjian Magna Carta. Teringat jauh sebelum ke UK, disaat almarhum bapak masih hidup beliau pernah bercerita tentang perjanjian Magna Carta ini. Tak diduga berkesempatan melihat langsung.

Numpang Tidur di Southampton

Tujuan terakhir perjalanan adalah menuju ke Southampton. Jauh hari sebelum tour, saya telah menghubungi mas Qill Bel (teman PK 40 lpdp) untuk ikut numpang di sana. Alhamdulillah beliau berkenan, hanya saja kok ya orangnya malah ke Belanda. Tapi tidak apa-apa, saya alhamdulillah di asuh oleh mbak Masayu Dada, dan suaminya mas Agung Utomo.

Sesampainya di Southampton saya menaruh barang di kamarnya mas Bel, dan menuju ke University of Southampton. Di sana, teman-teman PPI sendang mengadakan acara buka bersama. Alhamdulillah.

Ngomong-ngomong mas Agung dan mbak Masayu Dada juga baik banget lho. Saya sampai dibangunin saat sahur coba. Sudah disiapkan makanan, dibangunkan. beuh… bener-benar barakah Ramadhan.

Hari 8: Biaya makan = 0 GBP, Biaya penginapan = 0 GBP.

Siang harinya saya harus bergegas dari Southampton menuju ke London, untuk dilanjutkan menuju ke Aberdeen. Di Southampton saya tidak kemana-mana. Cuma sempat ke University of Southampton, ke masjid kampus, shalat dzuhur di sana, ngobrol sama Icha sambil nunggu bus. Sudah cape jalan berhari-hari. T-T sedih.

Kesimpulan – Alhamdulillah, banyak orang baik di bumi ini, yang mau berbagi dan direpoti meski beberapa dari mereka belum pernah bertemu langsung

Seluruh dokumentasi dapat dilihat pada tautan berikut.

3 comments

  1. berkaaaah banget tiket coldplay nya pak!! <>

    kadang-kadang aku merasa ragu kalau mau bepergian di bulan puasa, pernah ngalamin naik gunung saat shaum itu dahaganya sungguh tak terkira. tapi berkahnya justru lebih terasa ya pak slama perjalanan, jadi kepengen traveling pas puasa (karena biasanya tiket pesawat lebih murah, hehehe)

    1. hehehe.. aamiin… skrng sdh ga bisa nonton live Coldplay lg. Tergantung sih ku. kalau di daerah yang tidak panas mungkin enak. kalau panas kayak daerah topik kayaknya pikir2 deh kalau mau travelling saat shaum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *