Akulturasi Budaya Penyusun Warna Indonesia

[Disclaimer] Tulisan ini hanya bertujuan menyampaikan fakta, tanpa mencela satu kaum ataupun golongan tertentu. Penulis bukan ahli sejarah, mohon jangan dijadikan tulisan ini sebagai acuan sejarah. Kata-kata yang tertera adalah opini penulis berdasar fenomena yang mudah ditemukan di sekitar kita.

Sejarah bangsa Indonesia telah berlangsung begitu lama. Letak geografi yang strategis bagi perdagangan antar bangsa menjadikan tanah Indonesia disinggahi oleh berbagai saudagar dari lokasi yang berbeda. Setidaknya lebih dari lima negara pernah bercengkrama di negeri kita. Para pelancong dari India, Portugal, Arab, Belanda, Jepang, serta China mengarungi samudra yang luas untuk sampai di bumi Nusantara. Saudagar-saudagar itu tidak hanya membawa barang dagangan saja, namun juga berbagai nilai-nilai lain yang diberikan kepada masyarakat Indonesia. Dalam pengamatan awam saya, setidaknya ada empat hal yang mereka tularkan dari tanah kelahiran mereka kepada masyarakat Indonesia. Keempat hal tersebut adalah agama, budaya, bahasa, dan kuliner.

Agama
Menilik sejarah, masyarakat Indonesia memiliki keragaman agama yang diyakini disampaikan oleh para pengembara-pengembara itu. Menyadur tulisan di id.wikipedia.org, agama Hindu barangkali yang paling lama dianut oleh masyarakat kita. Agama ini dibawa pada abat kedua Masehi ketika para pedagang dari India datang ke Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Pada masanya, Nusantara pernah menjadi pusat agama Hindu. Hal ini ditandai dengan adanya kerajaan-kerajaan besar seperti Kutai dan Kertanegara. Kerajaan Majapahit juga diyakini memiliki pemeluk agama Hindu yang cukup banyak jumlahnya.

Agama Budha masuk ke Indonesia sekitar abad kelima. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang mayoritas rakyatnya memeluk agama Budha. Pada masa keemasannya, Sriwijaya pernah menjadi pusat pengembangan agama Budha di sekitar Asia Tenggara.

Agama Islam datang ke Nusantara diyakini disebarkan oleh pedagang-pedagang dari Gujarat India. Berbagai kerajaan pernah berdiri di Indonesia dengan sebagian besar masyarakatnya menganut agama Islam. Kerajaan-kerajaan seperti kerajaan Samudera Pasai, kesultanan Mataram, kesultanan Ternate Tidore, dan kerajaan Islam Demak menjadi bukti pengaruh agama Islam di Indonesia.

Agama Kristen Katolik diyakini dibawa oleh bangsa Portugis khususnya di pulau Flores dan Timor. Sedangkan agama Kristen Protestan diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 Masehi. Meskipun kedua agama ini tidak menancapkan keberadaannya dalam bentuk kerajaan, namun kehadiran mereka ada di sekitar masyarakat Indonesia selama berabad-abad lamanya.

Budaya
Keragaman budaya Indonesia sedikit banyak mendapatkan pengaruh dari berbagai bangsa yang datan ke bumi pertiwi. Tari Saman, Rencong Aceh bila ditelaah lebih lanjut memiliki kaitan sejarah dengan budaya Islam. Tembang macapat yang banyak di sampaikan oleh penyebar agama Islam di pulau Jawa memiliki filosofi rangkaian kehidupan manusia di bumi ini. Maskumambang melambangkan seorang bayi yang bergantung pada asupan ibu dalam kandungan, Sinom yang lambangkan kehidupan muda-mudi, Asmarandana yang indah dengan kehidupan asmara remaja, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pocung yang merupakan tahapan-tahapan kehidupan berikutnya.

Bangunan-bangunan elok seperti candi banyak dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Candi Borobudur dan candi Prambanan bisa jadi tidak akan pernah ada apabila kedua agama itu tidak pernah menginjak bumi Nusantara.

Bahasa
Dalam prosesnya, para saudagar yang datang ke Indonesia tidak hanya menyebarkan agama saja, tapi mereka juga menularkan tutur kata yang terangkum dalam bahasa. Kata-kata ini tidak bisa dielakkan menjadi bukti kemesraan pribumi dengan pendatang di bumi Nusantara.

Kata-kata Esa, Dwi, Panca dan sebagainya diyakini datang dari kawasan India. Teringat satu obrolan dengan teman Srilanka bahwa dia terkesima dengan banyaknya kesamaan kosakata antara Indonesia dengan mereka. Kala itu kami mengungkapkan kata-kata lain seperti purnama, dan surya.

Tidak hanya bangsa India saja yang memberikan nuansa bahasa, bangsa seperti Arab juga datang dengan pengaruh bahasa yang tidak terelakkan. Kata Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Sabtu merujuk pada angka-angka satu hingga tujuh dalam bahasa Arab. Ahad yang berarti satu menggantikan hari Minggu. Senin dari akar kata istnain merupakan hari kedua. Berturut-turut kata Selasa dari Tsalasah (tiga), Rabu dari Arba’ (empat), Kamis dari Khamsah, dan Sabtu dari Sab’ata (tujuh). Tidak hanya hari, kata-kata seperti jerapah, ilmu, nafas, wajib dan sebagainya merupakan bukti tidak terelakkan kemesraan kita dengan bangsa yang satu ini.

Dari bangsa China (Mandari, Hokkien, Amoy, Kanton), menularkan kata-kata bakiak, bakso, cincau, guci, jamu, cepek, gopek dan sebagainya. Sedangkan bangsa Protugis menyumbang kata-kata seperti algojo, armada, arena, Belanda (dari holanda), Inggris (Ingles), bola, bolu, dadu, dan masih banyak lagi. Sedangkan bangsa Belanda memberikan sumbangsih penyusun bahasa seperti administrasi, kasir, knalpot, piket, anulir dan sebagainya.

Mengenai bahasa, dalam hemat penulis proses penularan bahasa kepada bangsa kita terjadi dengan latar belakang yang berbeda. Barangkali, saat kata-kata purnama, sukma, esa, sang, hyang terserap ke masyarakat saat agama Hindu menyebar ke kepulauan nusantara. Bisa jadi, masyarakat saat itu sedang belajar mengenai keberadaan pencipta, jiwa, raga dan juga benda-benda di sekitar kita. Bahasa dalam pandangan penulis merupakan suatu olah rasa yang muncul saat suatu bangsa menghadapi fenomena dihadapan mata mereka. Bangsa Belanda dikenal dengan keluasannya dalam sisi hukum. Bisa jadi kata-kata yang terpatri seperti contoh di atas merupakan proses akulturasi pendidikan hukum di wilayah nusantara. Kata-kata yang terakulturasi dari bangsa Arab dengan agama Islamnya bisa jadi dikarenakan saat itu dikenal dengan keluhurannya dalam bidang ilmu pengetahuan murni. Bangsa China dikenal dengan kenikmatan kulinernya, maka dari itu banyak kata-kata serapan yang lebih bernuansa kuliner. Sekali lagi mohon maaf, ini hanya pendapat pribadi dari pandangan awam penulis. Semoga tidak dijadikan sebagai patokan.

Kuliner
Semua bangsa yang datang dan singgah ke bumi pertiwi membawa kuliner yang tiada tara. Telah diungkapkan sebelumnya kata-kata bakso, capcay, bolu, adalah kata-kata serapan dari bangsa lain. Saya yakin dengan membaca kata-kata ini terbayang betapa nikmat kuliner-kuliner tersebut di lidah kita. Kuliner lain seperti roti canai, yang dikenal juga dengan roti prata banyak ditemui di daerah Aceh, dan juga merupakan bagian dari budaya India. Kuliner perkedel, semur, dan kroket bisa jadi tidak asing di lidah kita. Kuliner itu ditularkan oleh bangsa Belanda saat mereka berinteraksi dengan kita.

Penutup
Perbedaan agama, etnis, budaya, bangsa yang datang dalam sejarah Indonesia, ternyata lebih memberikan warna indah dalam sejarah. Sudah selayaknya kita mempertahankan keindahan ini, dan tidak menjadikan perbedaan itu kotak-kotak pembeda yang bisa memecah belah kita. Keindahan warna yang perlu kita tonjolkan, dan semoga keindahan itu bisa mempersatukan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul di dunia.

Dikompilasi dari beberapa artikel wikipedia

Image candi Borobudur diambil dari
https://en.wikipedia.org/wiki/Borobudur#/media/File:Borobudur-Nothwest-view.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *