Menumbuhkan Minat Baca Ala Scotlandia

Alhamdulillah lebih dari satu tahun yang lalu, kakak berkesempatan untuk belajar di Aberdeen, Scotlandia. Seperti yang telah saya posting sebelumnya, pendidikan di negeri William Wallace ini memiliki beberapa perbedaan dengan pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah bebas biaya. Kali ini saya ingin berbagi mengenai perbedaan lain yakni bagaimana di negeri tempat unicorn dilahirkan, menanamkan budaya membaca kepada anak.

Di sekolah kakak yakni Sunnybank School, masing-masing anak setidaknya diberikan dua buku bacaan setiap minggunya. Pemberian buku dengan judul baru dilakukan dihari Senin dan Kamis. Pada tahap awal, buku-buku yang diberikan hanya memuat gambar saja. Dari buku-buku ini, orang tua diharapkan bercerita mengenai isi buku. Jadi boleh dikatakan buku ini adalah “homework” bersama antara orang tua dan anak. Mohon maaf saya tidak menyimpan contoh gambar buku pada level tersebut, namun ada beberapa judul yang masih saya ingat seperti: The Big Box, dan juga The Hedgehog diberikan kepada kakak sebagai PR kami bersama.

Sebagai pendamping buku, sang anak diberikan pelakukan (treatment) khusus berupa memorizing. Perlakukan tambahan ini dilakukan dengan memberikan kumpulan beberapa kata kunci. Kata-kata kunci ini harus dihafalkan dan dilatih setiap hari. Anak akan diberikan daftar kata kunci baru apabila anak sudah berhasil menghafal (hampir) seluruh kata kunci sebelumnya. Kata-kata seperti : a, an, is, it, her, like, father, mum dan yang lainnya masuk dalam daftar kata-kata kunci (lihat juga tautan “Children ‘need 100 key words’ to read” pada komentar).

Tahapan berikutnya sang anak diberikan daftar buku yang memuat gambar dan kalimat sederhana. Dalam tahap ini, kata-kata kunci bagi anak sangat berperan sebagai pengetahuan dasar dalam membaca. Sedangkan gambar pada buku membantu anak dalam menganalogikan kata-kata baru yang belum mereka dapati dari kata-kata kunci sebelumnya. Sebagai contoh dalam gambar terdapat kalimat: “Is it a snake?”. Kata “snake” seingat saya belum pernah saya temui dalam daftar kata kunci yang kakak dapatkan.

Berkembang dan berkembang, jumlah kata yang dapat dibaca oleh anak semakin bertambah. Tahapan berikutnya yang diajarkan oleh sekolah adalah mengeja (“spelling”). Spelling diberikan dengan tahapan khusus yakni mencari rima-rima kata (rhyme). Sebagai contoh rima pada kata “moon” dengan “noon”, atau juga “jet” dengan “egg”. Dari sini sang anak belajar memahami pola dalam mengeja suatu (dan/atau kumpulan) huruf. Sebagai contoh bagaimana mengucapkan “ee” pada kata “queen” dan “feed”, atau pengucapan huruf “f” pada kata “fish” dan “fun”. Berbekal kemampuan mengeja (spelling), kakak kini diberikan beberapa buku dengan pola kalimat yang lebih sulit dan dengan kosa-kata yang beragam (lihat gambar terakhir).

Satu hal yang menggelitik di benak saya adalah: kenapa “memorizing” terlebih dahulu baru “spelling”? Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan seorang kawan mengenai hal ini dan mendapati bahwa mengeja merupakan hal yang sulit bagi seorang anak. Dan sebenarnya dengan berbekal beberapa kosa kata kita sudah mampu membaca dan merangkai kalimat. Bagi teman-teman yang pernah mendapatkan pelajaran “Ini ibu Budi. Ini bapak Budi.” mungkin akan memahami betapa bangganya kita dahulu bisa mengucapkan kalimat tersebut dengan lantang. Dalam diskusi tersebut juga terfikir dalam obrolan kami bahwa: dengan mengingat kosa-kata yang terbatas, kitapun telah mampu membuat kombinasi kalimat yang cukup banyak. Sebagai contoh apabila kita mengingat kata “Budi”, “Ibu”, “Bapak”, dan “sayang”, maka kita bisa membuat kombinasi kalimat dengan pola SPO dari kata yang telah kita hafal.

Sempat pula terfikir apakah memorizing-spelling lebih bagus dari pada spelling-memorizing? Barangkali saya selalu senang dengan jawaban: “tergantung”. Menurut hemat saya, ada kasus-kasus dimana memorizing-spelling lebih baik, dan ada kasus lain dimana berlaku kebalikannya. Menurut saya kasus memorizing-spelling (seperti uraian di atas) berfungsi baik karena didukung oleh dua hal. Pendukung pertama adalah kondisi, sedangkan yang kedua adalah dukungan. Dalam hal kondisi di mana sang buah hati belajar membaca bahasa keseharian (daily language), maka memorizing-spelling sangat membantu. Analogi akan mudah muncul dalam menemukan kata-kata pada kasus sehari-hari. Mungkin kita bisa membayangkan betapa sulitnya kakak untuk menganalogikan “snake” dalam konteks bahasa Thailand, atau Rusia dalam contoh buku tadi. Dalam hal dukungan, kemampuan sekolah dalam memfasilitasi (merotasi) dua judul buku setiap minggunya sangat berperan penting dalam menumbuhkan kesukaan anak dengan membaca. Berawal dari keterpaksaan, memunculkan rasa suka yang membuahkan rasa cinta (halah iki apa jal).

Namun satu hal yang menurut saya sangat penting adalah: dukungan keluarga. Masing-masing dari kita memiliki kesempatan yang berbeda-beda termasuk salah satunya dalam hal menumbuhkan minat baca pada anak. Setiap anak adalah unik, dan yang paling penting bagaimana mengoptimalkan potensi dalam diri anak. Jadi intinya, tetap stimulasi anak dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

Semoga menginspirasi.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *