Bubur Ayam dalam Perspektif Awam

Saat kedatanganku ke bumi Parahyangan, ada satu kuliner khas yakni “Bubur Ayam”. Pertanyaan yang khas saat mau memakan bubur ayam ini adalah: mau diaduk atau tidak diaduk? Pertanyaan ini sedikit berbau politis-psikologis, mengingat kedua belah kubu saling bersitegang bahwa cara merkalah yang paling paten dalam memakan bubur ayam.

Teringat tahun 1993 saat pertama kali memakan bubur ayam di daerah Cimahi, Kab Bandung (jangan protes, coz saat itu belum jadi Kota Administratif). Daaan…. amboy… makanan apa ini? lidah serasa protes tak karuan. Bukan bermaksud menghina, hanya berpendapat jujur saja bahwa kala itu cinta belum datang, sehingga rindu belum mengundang. Tak-akan rindu bila tidak cinta (bener tha? apa sih?). Boleh dikata citarasa berbeda yang meyakinkan hati bahwa ini bukan makanan favorit saya.

Namun kini, lebih tepatnya tadi siang saat istri tercinta menawarkan sepercik rasa rindu. Semangkuk bubur ayam dengan untaian kalimat asmara: “yah, bubur ayamnya mau dipanasin?”. Bagaikan tanah yang tersiram air hujan manakala musim kemarau panjang, saya katakan: “iya, mau”. Bubur ayam sudah menimbulkan rasa rindu. Kerinduan akan rasa yang bertahun-tahun menggelayutiku. Kembali di Bandung, bubur ayam sudah menjadi tradisi di keluarga kami sebagai pakan pokok di pagi hari, manakala istri lelah atau tak tau harus memasak apa lagi. Singkat kata saya cinta dengannya, dengan cita rasa bubur ayam yang menggugah selera. Entah itu masakan istri, dagangan ibu-ibu yang jualan di pinggir jalan, atau isi gerobak keliling emang-emang.

Variasi Bubur Ayam
Sejauh pengalaman saya, bubur ayam memiliki variasi yang cukup banyak. Masing-masing varian menunjukkan kualitas bahan dan karakter dari “si empu” kuliner yang satu ini. Satu yang mendekati selera asal kami adalah bubur ayam yang didominasi oleh santan. Bubur ini mirip dengan rasa bubur merah-putih yang kami nikmati di kota kretek.

Varian lain bubur ayam dengan kaldu tulang ayam yang dicampurkan saat memasak. Bubur ayam ini lebih terasa gurih di lidah, mengingat kaldu ini telah berpadu dengan bulir-bulir nasi dalam proses memasaknya. Sumber kaldu bisa berasal dari tulang iga ayam, tulang paha ayam, ataupun tulang-tulang ceker ayam. Pernah suatu ketika manakala kami menikmati bubur ayam yang dibuat dengan kaldu dari potongan-potongan ceker ayam. Hanya tulangnya saja yang tersisa, dan rasanya hhhmmm gmn ya? seperti ada ranjau-ranjau kecil gitu deh. 

Varian lain yang umum akan kita temukan adalah bubur ayam dengan kuantitas vetsin yang banyak. Entah sengaja atau tidak, tapi varian ini banyak ditemukan oleh penjaja makanan di sana. Untuk varian yang satu ini kami kurang begitu suka, meski kami juga yakin di luar sana banyak orang yang mengidolakan varian ini.

Varian terakhir sependek pengetahuan saya adalah bubur ayam dengan kuah berminyak. Sekilas kuah ini mirip campuran mie ayam. Saya pribadi tidak terlalu suka dengan varian ini.

Bahan-bahan Tambahan
Saat memakan bubur ayam, selain topping ayam yang sudah pasti paten harus ada (bisa ngomong ga pake ayam sih), kita bisa menambahkan berbagai tambahan lain di atas bubur kita. Kerupuk adalah tambahan semi wajib saat menyantapnya (T-T kangen kerupuk kecil-kecil itu). Pernah suatu ketika saya membeli 1 mangkuk bubur ayam, dan penjaja bubur yang murah hati menyodorkan 1 toples besar kerupuk. hwaaa… jadi ngiler.

Tambahan lain yang biasa diberikan adalah kacang kedelai goreng, telor ayam rebus (bukan telor mata sapi – lagi bahas ayam bukan bahas sapi). Rasanya kedua tambahan itu juga masuk semi wajib. Yang sifatnya semi wajib lagi adalah kecap manis/asin, dan sambal yang maknyus pedasnya. hhmmm jadi pengen kan… Tambahan yang tidak harus ada adalah usus goreng, ati ampela goreng, dan sebagainya.

Kapan Bubur ini Enak untuk Dimakan?
Untuk pertanyaan ini jawabannya adalah manakala satu mangkok bubur ayam ada dihadapan kita, dan kita tidak sedang berpuasa. InsyaAllah laziz… wa halalan tayyiban.

Pernah suatu ketika pas sakit diare disertai demam, rasanya pengen banget memakan kuliner ini, tapi sulit mendapatkan. Rasanya ingiiin sekali. Astaghfirullah hal adzim, semoga kita dihindarkan dari kondisi sakit seperti ini, dan semoga kita diberikan kesehatan agar terus dapat beraktifitas dan beribadah kepada Allah SWT.

Kembali ke Pertanyaan Awal
Jadi diaduk dulu atau tidak perlu diaduk sebelum memakannya? Di awal-awal saya menikmati kuliner ini, saya berada di kubu “diaduk terlebih dahulu”. Saat bubur diaduk, dengan campuran kerupuk, kecap manis, sambal, kacang kedelai, dan seledri (eh tadi belum disebut ya?), rasanya keseluruhan cita-rasa bahan-bahan tadi bersatu padu dan menjadikan bubur ayam yang kita santap sangat nikmat. Belum lagi kalau saat kita menyantapnya dalam kondisi hangat. Sensasi yang didapat adalah kenikmatan yang setara dari awal kita menghirup aroma, menyendoknya, hingga jilatan bubur terakhir di sendok kita. Super duper lezaat.

Namun setelah saya menikah, istri tercinta mengungkapkan fakta bahwa bubur ayam yang tidak diaduk akan memiliki kekentalan yang tahan lama. Bubur ayam yang mengalami proses pengadukan seolah-olah akan memisahkan cairan kaldu, santan, atau bahan lainnya yang menyebabkan lebih encer. Tadinya saya tidak percaya, tapi ternyata hipotesa ini benar setelah melakukan eksperimen sendiri berkali-kali. Bila kita menyukai orisinalitas cita-rasa, barangkali cara yang tepat untuk menikmati adalah dengan tidak mengaduknya.

Meskipun demikian, dalam pandangan awam saya, bubur ayam yang tidak diaduk memiliki sedikit kekurangan yakni cita-rasa akan berbeda di tiap sendoknya. Sebagai gambaran, bayangkan bila ada kecap manis yang terdistribusi rata di atas bubur kita, maka sendokan-sendokan dangkal akan menyebabkan bubur berasa lebih manis. Sedangkan sendokan akhir akan terasa lebih gurih. Belum lagi sensasi rasa yang disebabkan oleh ketersediaan sambal yang ada. Sepertinya sulit untuk mendistribusikan sambal disetiap suapan yang kita nikmati.

Seni Mahir dalam Memakan Bubur Ayam
Bagi Anda yang baru beberapa kali memakan bubur ayam, saya sarankan untuk terus memakannya. Seperti pengalaman saya yang sudah saya ceritakan di awal, lama-kelamaan kita akan suka. Bila Anda sudah mulai menyukainya, satu seni yang menurut saya paling unggul adalah dengan memakan bubur ayam tanpa sendok.

Memakan tanpat sendok???? What??? Ya benar, tanpa sendok. Kalau tidak pakai sendok terus pakai apa? Tangan/dipuluk (jw-red)? Suru? Ney…ney…ney… Jawabannya adalah dengan kerupuk. Satu-demi satu suapan kita ambil dengan kerupuk. Dijamin… beuh… sensasi vetsin yang sudah tertempel di kerupuk akan menambah lezat bubur ayam yang ada di hadapan kita.

Semoga bermanfaat ^_^

posted on my fb account : https://www.facebook.com/agungtoto/posts/10156304936748114

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *